Showing posts with label Kisah. Show all posts
Showing posts with label Kisah. Show all posts

May 22, 2013

Syekh Muhammad Nafis Al-Banjari bag 2

Dalam deretan ulama Banjar, nama Syeikh Muhammad Nafis al-Banjari tak kalah masyhur dibanding Syeikh Muhammad Arsyad al-Banjari. Kalau Muhammad Arsyad dikenal sebagai ahli syariat, maka Muhammad Nafis dikenal sebagai pakar ilmu kalam dan tasawuf. Dengan keilmuannya, ia berhasil menorehkan prestasi sebagai salah seorang ulama terkemuka Nusantara.
Dialah pengarang “Durr Al-Nafis” (permata yang indah), kitab berbahasa Jawi yang dicetak berulang-ulang di Timur Tengah dan Nusantara, yang masih dibaca sampai sekarang. Dia berada dalam urutan kedua setelah Syeikh Muhammad Arsyad Al-Banjari dari segi pengaruhnya atas kaum muslimin di Kalimantan. Apa yang yang harus dilakukan kaum muslimin agar memperoleh kemajuan dalam hidup? Mengapa Belanda melarang kitabnya beredar di Indonesia?
Syeikh Muhammad Nafis al-Banjari bin Idris bin Husien, lahir sekitar tahun 1148 H/1735 M, di Kota Martapura Kalimantan Selatan, dari keluarga bangsawan atau kesultanan Banjar, silsilah dan keturunanya bersambung hingga Sultan Suriansyah (1527-1545 M.) Raja Banjar pertama yang memeluk agama Islam sebelumnya bernama Pangeran Samudera.
Silsilah lengkapnya adalah: Muhammad Nafis bin Idris bin Husien bin Ratu Kasuma Yoeda bin Pangeran Kesuma Negara bin Pangeran Dipati bin Sultan Tahlillah bin Sultan Saidullah bin Sultan Inayatullah bin Sultan Mustain Billah bin Sultan Hidayatullah bin Sultan Rahmatullah bin Sultan Suriansyah. Muhammad Nafis hidup pada periode sama dengan Syeikh Muhammad Arsyad Al-Banjari.
Jika Arsyad meninggal tahun 1227/1812, Nafis belum diketahui tahun wafatnya. Yang kita ketahui, peristirahatan terakhir beliau di Mahar Kuning Desa Bintaru, sekarang menjadi bagian Kelua Kabupaten Tabalong Kalimantan Selatan, sekitar 125 kilometer dari Banjarmasin. Tidak ada catatan pasti tahun pergi menuntut ilmu ke tanah suci Makkah. Diperkirakan ia pergi menimba ilmu pada usia dini sangat muda, sesudah mendapat pendidikan dasar-dasar agama Islam di kota kelahirannya Martapura.
Sebagian ahli berpendapat, masa belajar Muhammad Nafis tak jauh dari masa Muhammad Arsyad al-Banjari. Bahkan, para masyasyikh-nya juga kebanyakan sama, yakni Muhammad bin Abdul Karim al-Samman al-Madani, Muhammad al-Jauhari, Abdullah bin Hijazi al-Syarqawi al-Mishry (syekh al-Azhar sejak 1207 H/ 1794 M), Muhammad Shiddiq bin Umar Khan (murid al-Sammani) dan Abdurrahman bin Abdul Aziz al-Maghribi.
Dari para gurunya itu, Muhammad Nafis banyak belajar tasawuf. Sekian lama ia mematangkan pengetahuan dan lelaku tasawufnya sampai ia diberi gelar kehormatan “Syekh Mursyid.” Dengan gelar itu, ia beroleh ijazah untuk mengajarkan dan membimbing ilmu tasawuf kepada orang lain. Pencapaian itu tentunya tak mudah dan instan, tapi membutuhkan waktu latihan dan perenungan yang sangat lama.
Sekian lama berada di Mekkah, ia akhirnya kembali ke Nusantara, diperkirakan pada 1210 H/1795. Saat itu, yang memerintah di Banjar adalah Sultan Tahmidillah (Raja Islam Banjar XVI, 1778-1808 M). Tapi, karena Nafis tak suka dekat dengan kekuasaan, ia memilih meninggalkan Banjar dan berhijrah ke Pakulat, Kelua, sebuah daerah yang terletak sekitar 125 km dari Banjarmasin. Alasan lain adalah perkembangan Islam di daerah sekitar Martapura dan Banjar sudah ditangani oleh Syekh Muhammad Arsyad.
Sedang daerah Kelua, termasuk daerah pedalaman, masih belum terjangkau oleh dakwah Islamiyah ulama Banjar. Dengan gigih, Muhammad Nafis mengenalkan Islam di sana. Berkat kegigihannya, daerah itu kemudian menjadi salah satu pusat penyebaran agama Islam di Kalimantan Selatan. Juga menjadi daerah yang turut melahirkan para pejuang anti-Belanda.
Dalam berdakwah, Muhammad Nafis dikenal sebagai sosok pengembang tasawuf yang andal. Meski di Banjar saat itu terjadi pertentangan antara kubu Muhammad Arsyad dengan Syekh Abdul Hamid Abulung yang didakwa sebagai pengembang wujudiyyah, dakwah tasawuf ala Muhammad Nafis berlangsung dengan lancar dan damai. Ini tak lepas dari corak tasawuf yang diusungnya, yakni “merukunkan” tasawuf sunni dan falsafi yang diposisikan secara diametral.
Ia juga tampak tak terikat dengan satu tarekat secara total. Shingga, menurut pengakuannya sendiri, ia adalah pengikut tarekat Qadariyah, Syathariyah, Naqsabandiyah, Khalwatiyah, dan Sammaniyah. Keikutsertaan Muhammad Nafis dalam ragam tarekat Mu’tabarah itu seolah menunjukkan bahwa suluk menuju Tuhan bisa dilakukan lewat berbagai jalan, tak hanya mengandalkan satu jalan saja. Juga menunjukkan betapa pengetahuan tasawuf Muhammad Nafis sangatlah mendalam.
Ciri khas ajaran tasawuf Muhammad Nafis adalah semangat aktivisme yang kuat, bukan sikap pasrah. Ia dengan gamblang menekankan transendensi mutlak dan keesaan Tuhan sembari menolak determinisme fatalistik yang bertentangan dengan kehendak bebas. Menurutnya, kaum muslim harus aktif berjuang mencapai kehidupan yang lebih baik, bukan hanya berdiam diri dan pasrah pada nasib.
Sebab itulah, ajaran tasawuf ala Muhammad Nafis turut membangkitkan semangat masyarakat Banjar untuk berjuang lepas dari penjajah. Malah, konon, setelah membaca kitab karangannya, orang menjadi tak takut mati. Situasi ini jelas membahayakan Belanda karena akan mengobarkan jihad. Tak heran kalau kemudian berbagai intrik dilakukan oleh Belanda untuk menghentikan ajaran Muhammad Nafis, mulai dari kontroversi ajaran sampai pelarangan. Namun, dakwah Muhammad Nafis terus berlanjut sampai ia wafat.
ISLAM DI KALIMANTAN
Bebeda dengan Muhammad Arsyad yang menjadi perintis pusat pendidikan Islam, Muhammad Nafis mencemplungkan dirinya dalam usaha penyebarluasan Islam di wilayah pedalaman Kalimantan. Dia memerankan dirinya sebagai ulama sufi kelana yang khas, keluar-masuk hutan menyebarkan ajaran Allah dan Rasul-Nya. Dan oleh karena itu beliau memainkan peranan penting dalam mengembangkan Islam di Kalimantan.
Islam masuk Kalimantan Selatan lebih belakangan ketimbang misalnya, Sumatera Utara dan Aceh. Seperti diungkapkan Azra, diperkirakan pada awal abad ke-16 sudah ada sejumlah muslim di sini, tetapi Islam baru mencapai momentumnya setelah pasukan Kesultanan Demak datang ke Banjarmasin untuk membantu Pangeran Samudra dalam perjuangannya melawan kalangan elite di Kerajaan Daha. Setelah kemenangannya, Pangeran Samudra beralih memeluk Islam pada sekitar tahun 936/1526, dan diangkat sebagai sultan pertama di Kesultanan Banjar. Dia diberi gelar Sultan Suriansyah atau Surian Allah oleh seorang da’i Arab.
Dengan berdirinya Kesultanan Banjar, otomatis Islam dianggap sebagai agama resmi negara. Namun demikian, kaum muslimin hanya merupakan kelompok minoritas di kalangan penduduk. Para pemeluk Islam, umumnya hanya terbatas pada orang-orang Melayu. Islam hanya mampu masuk secara sangat perlahan di kalangan suku Dayak. Bahkan di kalangan kaum Muslim Melayu, kepatuhan kepada ajaran Islam boleh dibilang minim dan tidak lebih dari sekadar pengucapan dua kalimah syahadat. Di bawah para sultan yang turun-temurun hingga masa Muhammad Arsyad dan Muhammad Nafis, tidak ada upaya yang serius dari kalangan istana untuk menyebarluaskan Islam secara intensif di kalangan penduduk Kalimantan. Karena itu, tidak berlebih jika Muhammad Nafis dan terlebih Muhammad Arsyad Al-Banjari merupakan tokoh penting dalam proses Islamisasi lebih lanjut di Kalimantan. Dua orang ini pula yang memperkenalkan gagasan-gagasan keagamaan baru di Kalimantan Selatan.
DAYA SPIRITUAL DAN KEWAJIBAN SYARIAT
Tak banyak karya yang ditinggalkannya. Namun, karya-karyanya senantiasa menjadi rujukan, tak hanya bagi kaum muslim Nusantara, tapi juga mancanegara. Di antara kitabnya adalah al-Durr al-Nafs. Nama kitab “Durr Al-Nafis” sesungguhnya amatlah panjang. Lengkapnya, kitab yang ditulis di Makkah pada 1200/1785 ini: “Durr Al-Nafis fi Bayan Wahdat Al-Af’al Al-Asma’ wa Al-Shifat wa Al-Dzat Al-Taqdis”. Kitab ini berkali-kali dicetak di Kairo oleh Dar Al-Thaba’ah (1347/192 8)dan oleh Musthafa Al-Halabi (1362/1943), di Makkah oleh Mathba’at Al-Karim Al-Islamiyah (1323/1905), dan di berbagai tempat di Nusantara. Kitab ini menggunakan bahasa Jawi, sehingga dapat dibaca oleh orang-orang yang tidak faham bahasa Arab.
Seperti diungkapkan Azyumardi Azra, dalam kitabnya itu, Muhammad Nafis dengan sadar berusaha mendamaikan tradisi Al-Ghazali dan tradisi Ibn ‘Arabi. Dalam karyanya ini, di samping menggunakan ajaran-ajaran lisan dari para gurunya, Nafis merujuk pada karya-karya “Futuhat Al-Makkiyah” dan “Fusushl-Hikam” dari Ibn ‘Arabi, “Hikam” (Ibn Atha’illah), “Insan Al-Kamil” (Al-Jilli), “Ihya’ ‘Ulumiddin” dan “Minhaj Al-‘Abidin (Al-Ghazali), “Risalat Al-Qusyairiyyah” (Al-Qusyairi), “Jawahir wa Al-Durar” (Al-Sya’rani), “Mukhtashar Al-Tuhfat al-Mursalah” (‘Abdullah bin Ibrahim Al-Murghani), dan “Manhat Al-Muhaammadiyah” karya Al-Sammani.
Kitab itu membicarakan sufisme dan Tauhid, menjelaskan maqam-maqam perjalanan (suluk) untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Al-Durr al-Nafs ditulis atas permintaan sahabat-sahabatnya ketika berada di Mekkah. Menurut penuturannya, ia menulis kitab itu untuk menyelamatkan para salik (perambah jalan Tuhan) dari syirik khafi dan penyakit riya’ yang umum menghinggapi umat muslim. Kitab itu ditulis dalam bahasa Melayu Arab untuk memudahkan umat membaca dan memahaminya. Karena mutu dan ajarannya yang tinggi, kitab itu dicetak berkali-kali, baik di dalam maupun luar negeri.
Sebagai penganjur aktivisme-sufistik, kontribusi Muhammad Nafis al-Banjari dalam membangun Islam di Banjar sangatlah besar. Tak aneh kalau kemudian ia diberi gelar Maulana al-Allamah al-Fahhamah al-Mursyid ila Tariq as-Salamah (Yang mulia, berilmu tinggi, terhormat, pembimbing ke jalan kebenaran) sebagai bentuk penghormatan masyarakat atas jasa-jasanya. Menimbang pencapaian dan prestasinya, gelar itu memang tak berlebihan baginya.
Bagi generasi muda masa kini, kita berharap saatnya untuk mengenang kembali, kemudian menghargai dan meneruskan cita-cita dan perjuangan Muhammad Nafis al-Banjari dalam konteks kekinian. Selain itu, menelusuri jejak-jejak sejarah beliau mampu merekatkan kembali jalinan psikologis dan spiritual dari sang ulama tersebut. Dari peran beliau kita dapat mengetahui akar-akar pemikiran, akar-akar perjuangan, serta pengaruh yang muncul dalam fenomena kebangsaan kita. Sehingga paparan ini dapat memberikan gambaran utuh mata rantai perjuangan tokoh-tokoh Islam dulu, kini dan esok.
Gambaran tersebut akan sangat berarti bagi individu-individu yang ingin mempelajari dan menelaah kembali jaringan ulama Kalimantan yang mempersembahkan dedikasi dan loyalitasnya untuk pembangunan bangsa.
KARYA
Karya beliau yang terkenal ialah ad-Durr an-Nafis. Kitab tersebut selesai ditulis pada 27 Muharam 1200 H/30 November 1785 M. Cetakan pertama kitab ini ditashhih oleh Syeikh Ahmad al-Fathani, di Mathba'ah al-Miriyah bi Bulaq, Mesir al-Mahmiyah. Pada terbitan pertama tercantum syair Syeikh Ahmad al-Fathani:
"Berpeganglah kamu dengan ilmu orang sufi, Nescaya kamu menyaksikan bagi Tuhanmu itu keesaan. Wahai yang meninggalkan sebaik-baik teman sekedudukan, Adalah kitab ini mengandung maksud keseluruhan, Seperti lautan, daripadanya tiap-tiap yang berharga penilaian''.
Sebagai keterangan lanjut Syeikh Ahmad al-Fathani mencatatkan, ``Ketahui olehmu hai yang waqif atas kitab ini. Bahawa segala naskhah kitab ini sangatlah bersalah-salahan setengah dengan setengahnya, dan tiada hamba ketahuikan mana-mana yang muafakat dengan asal naskhah Muallifnya. Maka hamba ikutkan pada naskhah yang hamba cap ini akan barang yang terlebih elok dan munasabah. Dan tiada hamba kurangkan daripada salah suatu daripada beberapa naskhah itu akan sesuatu kerana ihtiyat''.
Ad-Durr an-Nafis cetakan pertama Syeikh Ahmad al-Fathani telah memberi keterangan beberapa istilah seperti terdapat pada kalimat-kalimat:
1. Maka hendaklah lihat olehmu kepada Abi Bakar, iaitu ibarat daripada mati nafsu yang ammarah ...''Syeikh Ahmad al-Fathani menjelaskan, bahawa nafsu ammarah, ialah ``nafsu yang cenderung kepada kejahatan''.
2. Bermula hasilnya segala wujud sesuatu itu dengan dinisbahkan kepada wujud Allah Taala yang haqiqi itu khayal, dan waham, dan majaz jua, kerana wujudnya antara dua `adam Bermula wujud yang antara dua `adam itu `adam jua adanya ...''. Keterangan Syeikh Ahmad al-Fathani, ``Dua `adam, ertinya `adam lahiq dan `adam sabiq. Pengertian `adam lahiq, ialah tiada yang mengikut. Pengertian `adam sabiq, ialah tiada yang mendahului''.
3. Dan pada sekira-kira zahir mumkin itu lain daripada Allah Taala. Dan sekira-kira haqiqatnya wujud mumkin itu, iaitu `ain wujud Allah Taala. Dan misalnya seperti buih dan ombak...''. Keterangan Syeikh Ahmad al-Fathani, ``Katanya, ``Dan pada sekira-kira zahir dan pada sekira-kira haqiqat ...'', maka kedua (-dua) itu `athaf. Katanya, ``Pada sekira-kira wujud, dan dhamir pada haqiqatnya dan dhamir pada nyatanya. Kedua (-dua) itu kembali kepada buih, dan dhamir daripadanya itu kembali kepada air''.
4. Syeikh Ahmad al-Fathani menjelaskan istilah ma'iyah, kata beliau, ``Yakni berserta: a. ittihad = bersuatu. b. hulul = bertempat. c. khayal, yakni apabila kita lihat jauh ada sesuatu, dan kita lihat dekat tiada ada, seperti alung-alung di tengah jalan Madinah''. Ad-Durr an- Nafis setelah cetakan pertama oleh Matba'ah al-Miriyah di Bulaq, Mesir tahun 1302 H/1884 M yang diusahakan dan ditashhih oleh Syeikh Ahmad al-Fathani itu terdapat berbagai-bagai edisi.
Sumber : serambi-hikmah

Syekh Muhammad Nafis Al-Banjari bag 1


Salah satu permata Kalimantan pada jaman dulu adalah Syekh Muhammad Nafis Al-Banjari lahir sekitar tahun 1150 H (1735M) di Martapura Kabupaten banjar Kalimantan selatan,beliau adalah keturunan sultan kerajaan banjar dan nasabnya bersambung sampai ke Pangeran Suriansyah atau Pangeran Samudera ,sultan pertama kerajaan banjar yang memeluk agama islam dan terus bersambung sampai ke Raja pertama ke Rajaan Daha Kalimantan yaitu Pangeran suryanata atau Raden putera suami dari Puteri Junjung Buih,nasab beliau adalah Syekh Muhammad Nafis bin Idris bin Husein bin Ratu Kusuma Yoeda bin pangeran Kesuma Negara bin Pangeran Dipati bin sultan Tahlillah bin sultan Saidullah bin Sultan Inayatullah bin Sultan Musta'in Billah bin Sultan Hidayatullah bin Sultan Rahmatullah bin Sultan Suriansyah.

Sejak muda beliau sangat cinta akan ilmu ,sehari hari digunakan beliau untuk menuntut ilmu agama baik itu ilmu tauhid,fiqih ,tasawuf maupun ilmu ilmu lainnya,sehingga kegemaran beliau ini membawa beliau melanglang buana mencari ilmu sampai ke Mekkah,diperkirakan jaman Syekh Muhammad nafis ini bertepatan dengan jamannya Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari,dan sebagian guru guru Syekh Muhammad Nafis juga guru guru dari Syekh Muhammad Arsyad,adapun sebagian guru guru beliau adalah :

!.Syekh Abdullah Hijazi As-Syarkawi
2.Syekh Siddiq bin Umar Khan
3.Syekh Muhammad bin Abdul Karim As-seman Al-Madani
4.Syekh Abdurrahman bin Abdul Aziz Al-Banjari
5.Syekh Muhammad Al-Jawhari

Setelah berada ditanah air dengan berbekal ilmu yang diperoleh beliau dari Tanah Suci Mekkah beliau berdakwah kebeberapa daerah di nusantara ini,untuk mangajak masyarakat mengESAkan Allah,karena keluasan  dan ketinggian ilmu beliau serta kegigihannya dalam berdakwah oleh masyarakat Sumatera beliau diberi gelar 'MAULANA AL-ALLAMAH AL-FAHHAMAH AL-MURSYID ILAA THARIQ AL-SALAMAH AS-SYEKH  MUHAMMAD NAFIS  IBN IDRIS IBN HUEIN AL-BANJARI 
 (Tuan Guru yang sangat alim yang menunjukkan kejalan keselamatan Syekh Muhammad Nafis bin Idris bin Husein Al-Banjari)

Berbeda dengan syekh Muhammad Arsyad yang sepulang dari Makkah terus mengembangkan ilmu yang diperolehnya kepada masyarakat Desa Dalam Pagar dan banyak mempunyai kesempatan menulis sejumlah kitab,Datu Nafis atau Syekh Muhammad Nafis ini berkelana dari suatu daerah kedaerah lainnya sehingga beliau hanya sempat mengarang satu buah kitab yaitu Kitab Ad-Durrun Nafis (Permata Yang Indah) kitab Ad durrun Nafis tersebut pada ,mulanya dikarang beliau karena permintaan dari teman temannya namun akhirnya banyak diminati dan tersebar keseluruh dunia dan membuat nama beliau menjadi harum,kitab Ad-Durun Nafis tersebut tidak saja dicetak atau diterbitkan didalam negeri,tetapi juga dicetak diluar negeri seperti ditemukan menurut urutan tahun adalah:
1.Terbitan thn 1313 H oleh Mathba'ah Al-Karimul Islamiah di Mekkah
2.Terbitan thn 1323 H oleh Mathba'ah Al-Miriah di Mekkah yang terbuat sebagai hamisy (tepi) Kitab Hidayatus Salikin Karya Syekh Abdus Shamad Al-Palembani
3.Terbitan thn1343 H oleh percetakan Musthafa Al-Babi Al-Halabi wa Awladihi
4.Terbitan thn 1347 H oleh Darut Thaba'ah Al-Mishriyah Mesir
5.Terbitan Kedai Sulaiman Mar'i,Bashrah Sreet Singapore tanpa tahun
6 Terbitan Maktabah Sulaiman Mar'i wa Syirkahu Surabaya indonesia tanpa tahun
7.Terbitan Maktabah As-Saqafah tanpa tahun
8.Terbitan Maktabah Haramain Singapore tanpa tahun
9.Terbitan Ahmad Sa'ad bin Nabhan Surabaya tanpa tahun
10.Terbitan Maktabah salim Nabhan Surabaya tanpa tahun

Kitab yang berbahasa melayu ini merupakan kitab kecil dan tipis tetapi isinya sangat padat yaitu berisi ajaran Tauhid yang tinggi yang menjelaskan tentang ke ESA an ALLAH dari segi ZAT,SIFAT ASMA dan AF'AL tujuannya untuk melepaskan segala macam penyakit hati,tetapi kitab ini tidak bisa dipelajari oleh sembarangan orang,kecuali orang yang sudah mantap fiqih,tauhid dan ma'rifatnya,untuk menulis kitab ini Datu Nafis disamping menggunakan bahan yang diperolehnya dari guru guru beliau juga menggunakan literatur sebagai pengambilan antara lain dapat disebutkan sebagai berikut:
1.Muhammad bin Sulaiman Al-Jazuli Syarah Dalailul Khairat
2.Abdullah bin Hijazi As-Syarqawi Al-Mishri Syarah Wirdu Syahrin
3.Abdul Wahab Asy-Sya'rani Al-Jawahir wad Durar
4.Muhibbudin ibnu Arabi Futuhal Makiyyah Fushushul Hikam
5.Abdul ghani An-Nabulusi Syarah Jawahirun Nushushu fi Halli Kalimatil fushush
6.Ibnu ' Athaillah al-Iskandari Al-Hikam
7.Ibnu Raslan Syarah Hikam
8.Ibnu 'Abbad Syarah Hikam
9.Abdul Karim Al-Jili' Insanul kamil
10.Siddiq Ibnu 'Umar Syarah Qashidah 'ainiyyah
11.Sayyid Musthfa Ibnu Qamaruddin Al-Bakri Wirdi Syahrin
12.Syekh Muhammad bin Abdul karim As-samani Al-manhah Al-Muhammadiyah,Iqhatsatul Lahfan,'Anwanul jaluwwah fii Sya'nil Khalwah
13.Abu Hamid Al-Ghazali Ihya 'Ulumid Din ,Minhajul Abidin
14.abdullah bin Ibarahim Mirghani Mukhlish Mukhtasar Tuhfah al Mursalah
15.Abdul karim Al-Qusyairi Risalah Qusayriah
  Dalam kitab tersebut beliau menyatakan bahwa beliau pengikut Mazhab Syafi'i dalam Fiqih,Imam Asy'ari dalam hal Tauhid ,Imam Junaidi dalam Tasawuf,Qadiriyah Tarekatnya ,syattariyah pakaiannya,naqsabandiyah amalannya,Khalwatiyah makanannya dan Sammaniyah minumannya.

Seorang  yang kasyaf didaerah Amuntai yaitu Drs .Tabrani mengatakan bahwa kitab Ad-Durrun Nafis berisi bagian ilmu dari para wali ,barang siapa mempelajarinya maka ia akan dicatat oleh para wali tersebut sebagai bagian dari mereka, ini merupakan salah satu karamah dari Datu syekh Muhammad nafis Al-Banjari, kuburan beliau tepatnya di Mahar Kuning Desa Binturu Kecamatan Kelua Kabupaten Tabalong Tanjung,beliau wafat sekitar tahun 1200 H atau 1780 M...

sumber : Kisah.Para.DatudanUlama.Kalimantan

May 03, 2013

pakailah i'tibar mukjizatnya para nabi

ini cuma perumpamaan tapi tidak ada salahnya kita mencontoh para nabi karna mereka adalah figur buat kita

hidup memang tidak mudah di jalani tapi sangat mudah kalau di ucapkan maka pakailah i'tibar mukjizatnya para nabi

contoh

nabi nuh dengan perahunya

maksudnya jagalah hidup kita ibarat perahu dari lautan yang berarti kesalahan supaya kita bisa berhenti di gunung atau derajat yang tinggi

contoh

mukjizat nabi idris yaitu berteman dengan malaikat pencabut nyawa

maksudnya i'tibar untuk kita yaitu hindarialah matinya pikiran dan hati walau serangan yang mau mematikan pikiran dan hati kita selalu melemahkan diri kita agar kita mendapat kebahagiaan atau surga yg kekal

contoh

mukjizat nabi sulaiman yaitu bisa menundukkan segala mahluk hingga dia jadi raja

maksudnya i'tibar untuk kita kuasailah diri kita sepenuhnya jangan mau di jajah oleh jin,setan,iblis dlm diri agar kita selalu mengontrol diri dan jadi raja buat diri sendiri untuk menapaki jalan kehidupan

contoh

mukjizat nabi musa yaitu membelah lautan dengan tongkatnya

maksudnya i'tibar buat kita agar selalu percaya diri atau tongkat agar kita bisa membelah lautan atau menyelesaikan masalah yang kita hadapi

contoh

mukjizat nabi ibrahim yaitu di bakar tidak mempan dan selamat sejahtera

maksudnya i'tibar buat kita sebisa mungkin redamlah nafsu atau api agar kita selamat sejahtera

contoh

mukjizat nabi isa yaitu menghidupkan orang mati

maksudnya i'tibar buat kita untuk menjadi penerang buat orang orang yang hatinya mati supaya hidup kembali atau memberi motivasi

contoh

mukjizat nabi yusuf yaitu ketampanannya

maksudnya i'tibar buat kita agar kita selalu ramah tamah atau supel pasti orang akan tertarik pada kita

contoh

mukjizat nabi muhammad yaitu tentang pandai mensukuri

maksudnya i'tibar buat kita agar selalu berprasangka baik dan selalu nerimo ing pandum dengan segala pemberianNya

contoh

mukjizat nabi ismail yaitu ikhlas mengorbankan jiwa raganya di sembelih karena allah

maksud i'tibar buat kita agar kita ikhlas mengorbankan segalanya pada jalan alloh

contoh

mukjizat nabi yunus yang di makan ikan nun yang akhirnya mengakui salahnya krna meninggalkan umatnya

maksud i'tibar buat kita kalau kita sedang memasuki 3 kegelapan yaitu gelapnya fikir,hati,dan penglihatan cepat cepat bertobat agar mendapat pertolonganNya

semoga kita bisa mengambil i'tibar dari mukjizat para nabi untuk kehidupan kita aamin

kalau kurang mohon di tambahi
kalau salah ya maklum lg belajar monggo kulo nyimak nuwun


Oleh gus.i.batorokarang

December 25, 2012

Bunda Para Nabi


Tentu bukanlah kebetulan kalau empat orang Nabi: Ismail as, Musa as, Isa as, dan Muhammad saw dibesarkan oleh wanita janda.
Bunda para nabi itu tentu saja mesti berperan ganda, sebagai ibu sekaligus sebagai ayah. Bagaimana beliau-beliau menjalankan peran itu hingga berhasil mengantarkan para putranya menjadi nabi, berikut ini cuplikannya:

Bunda Nabi Ismail as

Siapa yang tidak mengenal Siti Hajar? Setiap tahun berjuta-juta kaum muslimin dari berbagai penjuru dunia yang naik haji menyaksikan buah karyanya, sekaligus merasakan perjalanan pahit yang pernah dirasakan wanita ini. Siapa gerangan wanita mulia ini? Dia adalah seorang wanita berkulit hitam legam dari Ethiopia, dan seorang hamba sahaya. Ia tidak berdaya dan tidak berkuasa. Bahkan, dirinya sendiri pun ia tidak menguasainya.

Ia dibawa oleh Sarah, Istri Nabi Ibrahim as dari Mesir ke tanah Kan'an ( Palestina) untuk membantu di rumahnya.

Sebagaimana diketahui, Sarah hingga berusia lanjut tetap mandul hingga hampir putus asa untuk dapat melahirkan anak yang diidam-idamkan suaminya. Oleh sebab itu dengan suka rela ia menyerahkan hamba sahaya yang dibawanya dari Mesir itu kepada suaminya untuk dijadikan istri kedua.

Sarah berharap dari rahim Hajar akan lahir seorang putera bagi Nabi Ibrahim as. Harapan itu terkabul. Namun sebagai wanita, Sarah merasakan cemburu juga. Ia jadi tidak enak, cemburu dan gundah gulana. Puncak kesabaran Sarah menjadi habis manakala Hajar melahirkan seorang anak laki-laki yang mungil.

Sarah terus menerus mendesak suaminya supaya menjauhkan Hajar dari pandangan matanya. Pada akhirnya Nabi Ibrahim as pergi mengembara ke arah selatan, diikuti Siti Hajar, sambil mengendong bayinya. Nabi Ibrahim hendak menempatkan puteranya di bawah naungan sisa-sisa bangunan purba, tempat pertama di muka bumi, di mana manusia bersembah sujud kepada Allah, Rabbul alamin.

Setelah melalui perjalanan panjang dan melelahkan, tibalah Nabi Ibrahim bersama istri dan puteranya di sebuah dataran tandus dan gersang. Tidak terdapat seorang manusia pun yang tinggal di kawasan itu. Di dekat sisa-sisa bangunan purba, Nabi Ibrahim as diperintahkan oleh Allah meninggalkan Hajar bersama puteranya, Ismail as. Ibu dan anak balita itu hanya dibekali sekantong kurma dan sewadah (qirbah) air minum untuk bertahan hidup.

Setelah membuat sebuah `arisy (semacam tenda) beliau berangkat ke tempat asalnya. Sudah barang tentu Hajar ketakutan, ditinggal seorang diri bersama bayi merahnya di tengah gurun. Ia meminta agar suaminya menghentikan langkah dan tidak meninggalkannya. Akan tetapi Nabi Ibrahim yang dipanggil-panggil tidak menoleh dan tidak menjawab, seolah-olah beliau khawatir kalau-kalau tekadnya menjadi goyah.

Hajar mengulang kembali permohonannya dengan suara memelas, tetapi Ibrahim as terus berjalan, tidak menoleh dan tidak menjawab. Setelah sampai di bagian lembah yang agak tinggi beliau mendengar suara Hajar bertanya: “Apakah Allah memerintahkan kanda meninggalkan diriku bersama bayi ini di tempat yang mengerikan seperti ini?”. Beliau menjawab: “Ya...! sambil terus berjalan tanpa menoleh ke belakang. Setelah mendengar jawaban seperti itu, Hajar terasa memiliki kekuatan untuk menerima kenyataan. Hajar menyerahkan nasib bersama bayinya kepada Allah dengan penuh keyakinan. Sementara dipandangnya terus-menerus langkah kaki Ibrahim as hingga hilang setelah melewati belokan di belakang pasir. Setibanya dibelokan itu Nabi Ibrahim dengan khusyu berdoa, “Ya, Allah Tuhan kami, kutempatkan sebagian dari keturunanku pada sebuah lembah yang tidak terdapat tetumbuhan, dekat rumah suci-Mu. Ya Tuhan kami, agar mereka menegakkan shalat dan semoga Engkau membuat hati sebagian manusia condong kepada mereka, serta karuniailah mereka berbagai buah-buahan. Mudah-mudahan mereka bersyukur.” (QS.Ibrahim:37)

Puncak kegundahan Hajar adalah manakala perbekalannya sudah habis, sementara air teteknya tidak lagi mengeluarkan air susu. Bayi Ismail kini mulai berteriak-teriak kehausan. Tangisnya semakin melengking, kemudian menurun dan terus menurun. Wajah Ismail semakin pucat pasi. Setelah berlari bolak-balik antara bukit shafa dan Marwah, dan tidak mendapatkan apa-apa, Hajar mencobanya lagi memasukkan teteknya ke dalam mulut anaknya secara berulangkali. Akan tetapi setiap kali putingnya dimasukkan ke dalam mulut, bayi itu tambah kuat jeritannya.

Merasa tidak ada harapan menolong bayinya yang malang itu, Hajar menjauhkan diri dari anaknya yang dianggap tak akan dapat bertahan hidup lebih lama lagi. Ia menjauh karena tidak ingin menyaksikan bayinya mati di depan matanya. Sambil menutup muka dengan tangannya dan meratap, “Tidak..aku tidak mau melihat kematian darah dagingku!”

Pada saat yang kritis itulah Allah menurunkan pertolongan-Nya. Secara tiba-tiba Hajar melihat seekor burung elang yang melayang-layang di udara, kemudian turun dan hinggap di sebuah tempat yang tidak seberapa jauh dari dirinya. Masya Allah! Pemandangan menakjubkan terjadi di depan matanya. Tanah kerontang lagi tandus itu memancarkan air di antara hentakan kaki bayi Ismail.

Ujian Hajar tidak sampai di situ. Memasuki usia remaja anaknya, Ismail, datanglah Ibrahim as yang memberitahukan mimpinya, “ ...Anakku, aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelih mu. Pikirkanlah, bagaimana pendapatmu? Ia (Ismail as) menjawab: ` Ayah, lakukanlah apa yang diperintahkan Allah kepadamu, insya Allah ayah akan mendapatiku sebagai seorang yang tabah dan sabar.”

Bunda Nabi Musa as

Al-Qur'an sama sekali tidak menyebut sesuatu mengenai ayah Nabi Musa as. Yang disebut secara khusus hanya bundanya saja. Kepada bundanya itulah, Allah swt memberi kepercayaan kepada untuk membesarkan calon utusan-Nya. Kepercayaan besar itu diberikan kepada ibu Musa ketika Fir'aun tak dapat lagi menahan amarahnya melihat tingkah laku dan kejahatan orang-orang Yahudi (Bani Israil).

Dalam riwayat yang lain disebutkan tentang mimpi Fir'aun yang sangat menakutkan. Para ahli nujum dan juru ramal yang ditanya mengenai arti mimpi itu menjawab, bahwa di kalangan orang-orang Yahudi akan lahir seorang anak lelaki. Apabila besar ia akan merampas kerajaan dan mengalahkan kekuasaan Fir'aun. Ia akan mengusir penduduk asli Mesir dan mengganti agama mereka.

Fir'aun sangat percaya dengan pentakwilan mimpinya yang demikian itu. Maka sejak itu Fir'aun memerintahkan kepada segenap aparatur pemerintah, tentara dan seluruh prajuritnya, untuk membunuh setiap bayi laki-laki yang lahir dari keluarga Yahudi.

Pada kondisi yang sangat mencekam itulah ibu Musa melahirkan anak lelaki secara sembunyi-sembunyi. Ketika itu alat kekuasaan Fir'aun sudah membunuh berpuluh ribu anak lelaki Yahudi. Darah bayi-bayi tak berdosa sudah menggenangi Mesir, yang dibunuh secara sangat sadis.

Kendati melahirkan dengan sembunyi, namun mata-mata Fir'aun yang disebar di segenap penjuru menciumnya juga. Rumah ibu Musa digrebeg dan bayi yang baru beberapa hari lahir itu nyaris diketahui oleh mata-mata Fir'aun. Untung saja beberapa saat sebelum mereka sempat masuk ke dalam rumah, kakak perempuan Musa, Maryam, sempat memberitahu ibunya, bahwa gerombolan mata-mata Fir'aun siap melakukan menggeledahan.

Di antara rasa takut dan bingung ibu Musa cepat-cepat membungkus bayinya dengan secarik kain, lalu memasukkan ke dalam sebuah wadah terbuka kemudian disembunyikan dalam tungku. Untung pada saat tentara-tentara haus darah itu datang, bayi Musa tidak menangis. Di depan para tentara itu ibu Musa berusaha dengan segenap kemampuannya menenangkan diri hingga tampak tidak terjadi apa-apa. Maryam, kakak Musa pun tidak tampak resah dan gelisah. Ia bekerja membenahi perkakas rumah dengan tenang, hingga akhirnya para alat kekuasaan Fir'aun meninggalkan rumah.

Akan tetapi ibu Musa sadar, bahwa bayinya tidak mungkin dapat disembunyikan terus menerus. Ia mencari akal untuk menyelamatkan buah hatinya. Pada saat itu datanglah petunjuk dari Allah yang berfirman, “Taruhlah dia (Musa) dalam peti, kemudian hanyutkanlah dia di bengawan (Sungai Nil). Air bengawan itu pasti akan membawanya ke tepi dan dia akan diambil oleh musuh-Ku dan musuhnya.” (QS. Thaha:39).

Bayi Musa akhirnya terdampar di Istana Fir'aun hingga kemudian, ia berhasil menumbangkan keangkaramurkaan raja yang zhalim itu.

Maryam dinadzarkan oleh ibunya untuk mengabdi pada rumah ibadah (Baitul Maqdis) sedang suami Aminah, Abdullah, dinadzarkan untuk di korbankan oleh ayahnya sebagai tanda rasa syukurnya. Kedua orang tua itu kelak melahirkan orang-orang terbaik bagi peradaban dunia, Isa ibnu Maryam dan Muhammad Saw.

Bunda Nabi Isa as

Untuk mengetahui peristiwa kelahiran Nabi Isa as dapat diperoleh informasinya dari ayat berikut, "(Ingatlah) ketika Malaikat (dahulu) berkata kepada Maryam," Hai Maryam, Allah menggembirakan engkau (dengan kelahiran) seorang putera yang diciptakan) dengan titah ( "Kun", "jadilah") dari-Nya, bernama Al-Masih Isa Putra Maryam. Ia seorang terkemuka di dunia dan di akhirat serta merupakan salah satu di antara hamba-hamba Allah yang didekatkan kepada-Nya." (QS.Ali Imran: 45)

Islam mengenal Al-Masih dengan nama Isa Putra Maryam berdasar firman Allah tersebut. Yang hendaknya menjadi kebanggaan kaum ibu di seluruh dunia, Isa as dinasabkan Allah kepada Ibunya, Maryam bukan kepada ayah sebagai lazimnya seorang wanita yang disucikan dan dipilih Allah dari seluruh wanita di dunia.

Mengenai kelahiran Maryam, al-Qur'an menjelaskan kepada kita sebagai berikut: "(Ingatlah ketika istri Imran berkata, "Ya Tuhanku, kunadzarkan kepada-Mu anak yang dalam kandunganku ini menjadi hamba yang shaleh dan berkhidmat (pada baitul Maqdis). Karena itu terimalah nadzarku ini. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui..."

"Ketika istri Imran melahirkan anaknya iapun berucap: Ya Tuhanku, aku melahirkan seorang anak perempuan! Allah lebih mengetahui anak yang dilahirkannya itu, dan anak lelaki tidak seperti anak perempuan(selanjutnya ia berkata): Ia kuberi nama Maryam dan ia beserta anak keturunannya kuperlindungkan kepada-Mu dari godaan (syetan) yang terkutuk."

"Tuhan menerima nadzarnya dengan baik. Tuhan mendidiknya dengan baik dan menjadikan Zakaria pemelihara (anak perempuan itu, Maryam). Tiap Zakaria masuk ke dalam mihrab (ruang khusus untuk beribadah) hendak bertemu dengan Maryam , ia selalu mendapati makanan di sisi anak perempuan itu. Zakaria bertanya, "Hai Maryam, dari mana engkau memperoleh makanan itu?" Maryam menjawab, "Makanan itu dari Allah! Allah memberi rezki kepada siapa saja yang dikehendaki tanpa penghitung-hitung." (QS. Ali Imran:35-37)

Sebagaimana banyak diriwayatkan, kisah keibuan Maryam benar-benar mengesankan. Beliau sosok wanita yang menghadapi ujian hidup sangat berat. Dia dilahirkan di tengah keluarga yang taat kepada agama dan dari ayah yang ternama di kalangan Bani Israil (Kaum Yahudi).

Ayah Maryam wafat ketika ia masih anak-anak. Ketika diadakan undian untuk menentukan siapa yang akan mengasuh Maryam, pilihan jatuh pada Zakaria, suami bibi Maryam yang juga dikenal sebagai seorang Nabi.

Sejak usia remaja Maryam sangat tekun beribadah kepada Allah di dalam mihrab. Sebagaimana yang dinadarkan ibunya, Maryam rajin mengabdikan diri di rumah peribadatan. Ia tumbuh menjadi wanita shaleh. Ia dijaga oleh Allah dan dipilih untuk mengemban amanat rahasia kekuasaan Ilahi.

Pada suatu hari datanglah informasi yang sangat mengejutkannya. Bahwa atas perkenan Allah Dia akan menitipkan seorang utusan lewat rahim Maryam yang terpelihara dari noda dan dosa. Tentu saja Maryam sangat terkejut dan ketakutan mendengar berita Ilahi yang disampaikan oleh Malaikat Jibril kepadanya. Ia menengadah ke langit seraya berucap dengan penuh tarharu, "Bagaimana aku akan mempunyai anak, sedang selama ini tidak pernah ada seorang manusia pun yang menyentuh diriku, lagi pula aku bukanlah wanita jalang!" Namun Malaikat menjawab, "Demikianlah, Tuhanmu telah berfirman: Hal itu mudah bagi-Ku (anak itu) akan kami jadikan tanda kekuasaan Kami bagi ummat manusia dan (juga) sebagai rahmat dari Kami. Ia itu merupakan soal yang menjadi ketetapan Allah."

Pada akhirnya Maryam berserah diri kepada kehendak Allah yang telah menjadi suratan takdir-Nya. Tidak lama kemudian setelah itu ia merasakan janin yang di dalam kandungannya mulai bergerak-gerak. Pada saat itu ia mulai merasakan hinaan dari kaumnya.

Ia berusaha menghindarkan diri dari berbagai tuduhan yang menyakitkan itu dengan pergi ke suatu tempat. Ketika saat bersalin sudah tiba, ia bersandar pada pohon kurma, kemudian ia melahirkan di sebuah kandang ternak. Pada saat kritis itu ia berucap, "Alangkah baiknya kalau aku mati sebelum ini dan diriku dilupakan orang!"

Akan tetapi keshalehan dan kesucian Maryam yang sudah diakui masyarakat selama ini tidak dapat mencegah makian dan cercaan semua orang yang menyaksikan Maryam telah melahirkan seorang anak lelaki. Semua celan, cemoohan, gangguan, kebencian, cacian dan fitnah tersebut diterima Maryam dengan tabah dan sabar.

Namun sebagai manusia ia memiliki juga keterbatasan. Maka untuk menghindari dari semuanya itu ia pergi ke Mesir. Ia tinggal di sana selama 10 tahun, hidup dengan bekerja memintal kapas dan memunguti butir-butir gandum sisa panen. Pekerjaan itu ia lakukan sambil menggendong putranya, Isa Al-Masih. Kasih sayang Maryam kepada puteranya Isa as tercurah hingga Al-Masih menerima wahyu Ilahi pada usia 30 tahun.

Menyangkut keduanya al-Qur'an menjelaskan, "Kami jadikan dia (Maryam) dan puteranya sebagai tanda (kekuasaan dan kebesaran-Ku bagi alam semesta."

Bunda Muhammad saw

Kurun kurang lebih 650 tahun kemudian, di bumi Hijaz muncul rangkaian wanita mulia selanjutnya, yakni ibunda Muhammad Rasulullah Saw, Siti Aminah binti Wahb. Ia adalah wanita suci yang berasal dari keturunan yang tidak pernah ternoda kehormatannya.

Keterangan mengenahi hal ini dapat disimak dalam hadits Nabi sebagai beriut, "Dan selanjutnya Allah memindahkan aku dari tulang sulbi yang baik ke dalam rahim yang suci, jernih dan terpelihara. Tiap tulang sulbi itu bercabang menjadi dua. Aku berada dalam yang terbaik dari keduanya itu." (hadits syarif)

Menurut Al Hamid Al-Hamidi dalam Baitun Nubuwwah-nya mengatakan, makna umum dari hadits tersebut ialah bahwa dari silsilah pihak ayah, Rasulullah saw berasal dari keturunan yang suci dan bersih dari perbuatan tercela. Demikian pula dilihat dari silsilah ibunya, beliaupun berasal dari keturunan yang tidak pernah ternoda kehormatannya.

Aminah binti Wahb lahir dari silsilah tua pasangan suami istri bernama Wahb dan Barrah. Yang satu berasal dari Bani Abdu Manaf bin Zuhrah bin Kilab dan yang lain berasal dari bani Abdul Manaf bin Quraisy bin Kilab. Jadi, pada Kilab-lah akar silsilah ayah dan ibu Aminah binti Wahb.

Suami Aminah binti Wahb, Abdullah bin Abdul Muthalib, seorang pria dari Quraisy yang berbudi luhur. Ayah Abdullah, Abdul Muthalib adalah pria yang disegani. Bahkan kedudukannya sangat dihormati dan dicintai oleh semua penduduk Makkah, baik yang berasal dari kabilah Quraisy maupun dari kabilah lain.

Beberapa minggu setelah pernikahan Aminah dengan Abdullah, pada suatu malam ia bermimpi ada cahaya yang menerangi dirinya. Sungguh terangnya cahaya itu, hingga seolah-olah Aminah dapat melihat istana-istana di Bushara dan di negeri Syam. Tidak berapa lama sesudah itu, ia mendengar suara yang berkata. "Engkau telah hamil dan akan melahirkan seorang termulia di kalangan ummat ini."

Dengan gembira Aminah menceritakan mimpinya itu kepada suaminya. Betapa gembiranya Abdullah mendengar kabar tersebut. Akan tetapi rasa gembira itu hanya berlangsung sejenak, yang disusul dengan kesedihan, karena ia harus bergabung dengan kafilah dagang Quraisy. Tidak diketahui entah untuk berapa lama perpisahan itu harus terjadi.

Bahkan ketika sebulan sudah berlalu Abdullah belum juga pulang. Hari berganti hari dan minggu berganti bulan, Aminah tetap tinggal di rumah, bahkan lebih sering di tempat tidur. Satu-satunya yang menghibur adalah keluarga Abdul Muthalib yang bertutur kata manis dan meriangkan.

Sebagaimana lazimnya wanita yag mengandung, Aminah juga mengidam. Namun keidaman yang dirasakannya itu tidak seberat yang dirasakan wanita lain. Dengan kehamilannya itu Aminah makin merindukan suaminya yang sedang bepergian jauh.

Pada suatu pagi, rombongan kafilah berjalan memasuki kota Makkah. Betapa senangnya Aminah karena beberapa saat lagi ia akan bertemu kembali dengan suami terkasihnya. Tapi hingga rombongan terakhir ia tidak mendapati Abdullah. Setengah berputus ada, ia masuk ke dalam kamar dan berbaring. Baru beberapa saat ia merebahkan diri, tiba-tiba ia mendengar suara pintu diketuk orang. Adakah yang datang suaminya? Ia pun segera bangun membuka pintu, ternyata yang datang bukan Abdullah, melainkan mertuanya, Abdul Muthalib bin Hasyim, ditemani ayahnya sendiri, Wahb, dan beberapa orang dari bani Hasyim. Dengan penuh perhatian Aminah mendengarkan kata-kata ayahnya. "Aminah, tabahkan hatimu menghadapi soal-soal yang mencemaskan. Kafilah yang kita nantikan kedatangannya telah tiba kembali di Makkah. Ketika kami tanyakan kepada mereka tentang keberadaan suamimu, mereka memberitahu, bahwa suamimu mendadak sakit dalam perjalanan pulang. Setelah sembuh ia akan segera kembali dengan selamat..." hiburnya.

Dua bulan Aminah menunggu, diutuslah Al-Harits oleh Abdul Muthalib untuk menyusul Abdullah ke Yatsrib (Madinah) yang sedang sakit. Akan tetapi kedatangan Al-Harits dari Yatsrib (Madinah) disambut duka cita yang mendalam setelah mengabarkan, bahwa Abdullah telah wafat, di tengah kaum kerabatnya, Bani Makhzum.

Betapa hancur hati Aminah mendengar berita yang sangat menyedihkan itu. Dua bulan ia menunggu kedatangan suaminya yang meninggalkan rumah dalam keadaan pengantin baru, tetapi yang datang bukan Abdullah, melainkan berita wafatnya.

Akan tetapi akhirnya Aminah menyadari setelah ia memahami hikmah kejadian yang memilukan itu. Pada waktu masih jejaka, Abdullah nyaris dikorbankan nyawanya untuk memenuhi nadzar ayahnya, Abdul Muthalib. Ia selamat berkat perubahan sikap ayahnya yang bersedia menebus nadzarnya dengan menyembelih seratus ekor unta. Tampaknya Allah memberi kesempatan hidup sementara kepada Abdullah hingga ia meninggalkan janin dalam kandungan istrinya.

Beberapa minggu menjelang kelahiran Muhammad, kota Makkah akan diserbu oleh Abrahah, penguasa dari Yaman yang akan menghancurkan Ka'bah. Akan tetapi sebagaimana diketahui, sebelum niatnya terwujud, Abrahah beserta beserta seluruh bala tentaranya dihancurkan oleh Allah swt.

Aminah melahirkan puteranya menjelang fajar hari Senin bulan Rabi'ul Awwal tahun Gajah. Saat itu ia berada seorang diri di dalam rumah, hanya ditemani seorang pembantunya, Barakah Ummu Aiman. Karena kondisi kesehatnnya yang memburuk, Aminah tidak dapat mengeluarkan air susu. Penyusuan bayi yang oleh kakeknya diberi nama Muhammad diserahkan kepada Tsuaibah Al-Aslamiyah. Selanjutnya penyusuan berpindah kepada Halimah as- Sa'diyah, seorang wanita yang berasal dari Bani Sa'ad bin Bakr.

Setelah mencapai usia lima tahun Muhammad dikembalikan kepada ibunya, Aminah. Pada kesempatan itu Aminah bermaksud mengajak buah hatinya berziarah ke makam ayahnya, Abdullah. Akan tetapi sungguh malang, dalam perjalanan pulang dari Madinah ke Makkah, bunda Muhammad saw, ini wafat di sebuah pedusunan bernama Abwa, terletak di antara Madinah dan Makkah. Selamat jalan ibu dari manusia termulia Muhammad saw.

September 18, 2012

Tak sampai hati


kisah lama di ulang kembali
agar setiap yang bijak mampu memberi arti
sungguh segenap kisah yang ada di dunia slalu akan diulangi
dan pasti akan terjadi
karna itulah cara Tuhan mengajarkan esensi
akan siapa Dia yang hakiki
moga menjadikan kita insan sejati
dalam naungan Ridho Illahi

duh sahabat duh ummati
jangan kau kira yang hinaan itu adalah api
sebab nantinya kau sendiri
yang akan terbakar dan mati

dulu kanjeng nabi Muhammad slalu dihina dan dimaki
dan sahabat yang melihat tak tega hati
hendak marah membalas membenci
mengasah pedang, keris dan belati
ternyata kanjeng nabi tak sampai hati
api emosi tak jadi kobaran api
diganti cahaya ketulusan hati
bahkan yahudi tuapun slalu ia suapi
dengan tangan lembutnya setiap hari

duhai suri tauladan kesabaran sejati
duhai yang selalu bimbang memikirkan ummati
sirah hidupmu yang kokoh ini
menjadikan muslim sejati jauh dari api benci

sekali lagi tangis rindu ini kembali
aku mengambil sari
atas apa yang terjadi padamu masa ini
hinaan padamu yang di nyatakan Illahi Robbi
kepada kami ummati
mengajarkan kami arti sabar sejati
bak sahabat yang hidup bersamamu menjadi islami

Allahumma shalli ala sayyidina muhammad
Al Fatihah..

August 19, 2012

Anak Yang Berbakti Kepada Ibunya

Hawa udara di Changchun , Tiongkok, sangatlah dingin. Li Yuanyuan memanggul sang ibu yang lumpuh kedua kakinya sambil menggendong putrinya yang berusia dua tahun buru-buru ke rumah sakit karena sang ibu terkena serangan jantung lagi. Orang-orang yang berlalu lalang di jalan memandang mereka bertiga dengan mata terbelalak, semua takjub melihat seorang wanita yang kelihatannya kurus lemah justru memiliki tenaga untuk memanggul satu orang sambil menggendong satu lagi…….

Menurut laporan “City Evening Post”, di pagi buta, 13 Pebruari 2008, Li Yuanyuan telah memakaikan baju bagi anak dan sang ibu yang baru sembuh dari sakitnya. Jam 10 pagi, Yuanyuan berjongkok di depan sang ibu, meletakkan kedua kaki ibu di pinggangnya lalu memanggul sang ibu, kemudian menggendong putrinya yang berdiri di atas tempat tidur.

Kedua tangan Yuanyuan dipakai untuk menyangga sang ibu, sedangkan sang ibu membantu merangkul cucunya mengitari leher Yuanyuan. Dengan cara inilah tiga orang tersebut saling berangkulan dengan susah payah keluar dari rumah sakit. Sang ibu telah lumpuh selama 21 tahun, selama 21 tahun itu pulalah Yuanyuan terbiasa memanggul sang ibu keluar masuk rumah sakit.

Ketika Yuanyuan berusia 7 tahun terjadilah sebuah kecelakaan lalu lintas yang benar-benar telah merubah kehidupannya. Karena kecelakaan ini ibunda mengalami kelumpuhan pada kedua kaki yang
diperparah dengan menghilangnya sang ayah. Sejak saat itu, Yuanyuan menjadi tulang punggung rumah tangga. Karena tidak ada penghasilan Yuanyuan menghidupi keluarga dengan menjadi pemulung, uang hasil kerja kerasnya habis terpakai untuk mengurus sang ibu.

Rasa bakti Yuanyuan kepada orang tua sangat menyentuh hati para tetangga, banyak tetangga yang dengan sukarela memberi bantuan kepada sang ibu dan putrinya ini. Karena sepanjang tahun hanya mampu berebahan, otot kaki sang ibu sering kejang, sakitnya tak tertahankan.

Ada seorang tetangga yang berprofesi sebagai seorang dokter tradisional tua, setiap hari membantunya memberikan terapi akupunktur terhadap ibu Yuan-yuan, bahkan mengajarnya menggunakan teknik akupunktur sederhana. Sejak berusia 11 tahun sampai sekarang, Yuanyuan sudah dapat menggunakan teknik akupunktur untuk meringankan rasa sakit ibunya.

Tiga tahun yang lalu, Yuan-yuan menikah, setahun kemudian, Yuanyuan melahirkan seorang putri. Namun di mana pun dan kapan pun, Yuanyuan tidak pernah meninggalkan sang ibu, dia dan suaminya bersama-sama memikul tanggung jawab mengurus sang ibu.

Meskipun rumah tangganya tidak terbilang kaya, mereka sangatlah puas. Sang ibu berkata, terkenang masa 21 tahun ini meskipun penuh penderitaan, namun dia sangat puas, dia merasa diri-nya sama dengan orang tua lain yang juga telah menikmati kehangatan keluarga.

Bagi Yuanyuan, selama 21 tahun ini, dia merasa dirinya sangat bahagia, karena dia adalah seorang anak yang masih memiliki seorang ibu.

“Saya rela menjadi tongkat ibu sepanjang hidupku.……” (Dajiyuan/prm)
Semoga kita bisa menjadi anak yang berbakti kepada orang tua… amin..

August 10, 2012

Seorang Buta Mampu Hafal Al Qur'an dan Mahir 5 Bahasa


Ada seorang pemuda yang mampu mengatasi kegelapan dan mengalahkan jiwanya. Ia tidak menyerah menghadapi realita dan konsidinya sejak lahir yang terhalang untuk merasakan nikmat mata. Ia justru menantang jiwanya dan memberontak atas realita yang membelenggunya. Ia merancang satu perencanaan untuk dirinya, meski sangat sulit. Dan ternyata ia mampu mewujudkan kesuksesan yang luar biasa dan namanya terkenal membahana, menjadikannya buah bibir seluruh penjuru Mesir.

Muhammad Sa'id Misri, ia dilahirkan tanpa bisa merasakan nikmat mata. Ayahnya yang miskin seringkali mendatangi para dokter dan pusat-pusat kesehatan, sampai harta bendanya habis tanpa membawa hasil. Kondisinya tidak membaik, bahkan justru bertambah buruk.

Di kota Thontho, salah satu kota di Mesir, sang ayah menerima kondisi dan ridho terhadap ketentuan dan takdir Alloh. Namun ia tidak mau menyia-nyiakan anak dan buah hatinya. Ia berazzam memasukkan anaknya ke sekolah dan melanjutkan studinya. Ia juga ingin menjadikannya hafal Al-Qur’an pada salah seorang pengajar. Sebagian orang menyanggah hal ini seraya mengatakan, “Anakmu masih kecil dan buta. Dengan demikian, dua hal tersebut sekaligus bisa membuatnya terbebani dan menghalangi perjalanan hidupnya.”

Bukan kecewa yang hadir, ternyata Alloh tanamkan ketegaran pada dirinya. Ia bertekad untuk terus melanjutkan jenjang pendidikannya. Hingga ia mampu menerima peringkat pertama dan penghargaan dari pihak sekolahnya. Ia menjadi buah bibir orang-orang dikampungnya. Ditambah lagi ia mampu menghafal Al-Qur’an di usianya menginjak 15 tahun.

Muhammad melanjutkan studinya ke tingkat perguruan tinggi dan mendapatkan ijazah dalam bidang bahasa inggris. Ia lalu tercatat dan mendapatkan ijazah dalam bidang bahasa inggris. Ia lalu tercatat sebagai mahasiswa S2 dan selanjutnya meraih gelar Doktor, dan menjadi seorang dosen di perguruan tinggi.

KARUNIA ILAHI DAPAT MENUNDUKKAN SEGALA KESULITAN

Muhammad tetap melanjutkan kajiannya dalam bidang ilmu syari’ah, seperti hafalan Al-Qur’an, tartil, tajwid dan tafsir. Tak hanya itu, bahkan ia mahir dalam 5 bahasa; bahasa Inggris, Perancis, Spanyol dan Portugal selain bahasa Arab sebagai bahasa ibu. Ditambah lagi kemampuannya sebagai ahli cerita yang mampu menulis novel dan cerpen indah.

Ia berkata, “ Aku tak merasa meskipun sehari bahwa aku dilahirkan dalam kondisi buta atau terhalang untuk merasakan nikmat mata. Sebab, telah memenuhi hatiku, sehingga aku mampu mengatasi berbagai problem yang aku hadapi dengan jiwa yang suka tantangan dan azam yang kuat. Awal perjalanan prestasi adalah hafalan Al-Qur’an yang mampu menerangi jalanku dan membantuku untuk meraih kesuksesan. Al-Qur’an adalah undang-undang dan cahaya yang memancarkan untuk manusia. Karna cahaya inilah ia menjadi alat untuk melihat dunia. Barang siapa yang menghafal dan membacanya, maka Alloh akan membukakan baginya untuk dapat beramal baik dan meraih kebaikan yang istimewa.