Showing posts with label Motivasi. Show all posts
Showing posts with label Motivasi. Show all posts

May 18, 2013

yakin, sebelum datang ragu


Bila takut gelombang, mengapa
berlayar …..? bila takut berkata cinta mengapa berikrar..

yakin, sebelum datang ragu, sebagaimana engkau berikrar padaNya,

sesungguhnya shalat, ibadah, hidup dan matiku adalah milikMu… yaa Allah..

inilah cinta yang sesungguhnya, yang sanggup arungi gelombang kehidupan menuju pantai kedamaian yang tiada panas tiada pula dingin..

Perahu adalah jasadmu, layar adalah iktiarmu, kuatkan tiang layarmu. mohon padaNya kekuatan, tuk arungi lautan kehidupan ini.

Jangan… perahumu tenggelam, menabrak karang nafsumu, berupa angan angan dalam akal khayalmu, penyesalanpun tiada arti lagi.

Yakinlah padaNya, sesungguhnya hidup dan mati ada dalam genggamannya,

bersujud kening cium bumi ketulusan, senantiasa bumi memberi meski dihina dan dicaci, ibu bagi ragaku karena tanah asal daripadaNya.

Innalillahi wainnaillaihi rojiun

segalanya adalah milik allah dan akan kembali pada allah

semuanya di ijabahi olehNya tidak memandang baik atau jelek tanpa kecuali

seandainya allah tidak mengijinkan niscaya tidak akan ada kejahatan dan keburukan serta agama yang berbeda beda

hanya keyakinan diri yang menentukan apa yang menjadi pilihannya resiko tanggung sendiri




gus.i.batorokarang

December 25, 2012

Bunda Para Nabi


Tentu bukanlah kebetulan kalau empat orang Nabi: Ismail as, Musa as, Isa as, dan Muhammad saw dibesarkan oleh wanita janda.
Bunda para nabi itu tentu saja mesti berperan ganda, sebagai ibu sekaligus sebagai ayah. Bagaimana beliau-beliau menjalankan peran itu hingga berhasil mengantarkan para putranya menjadi nabi, berikut ini cuplikannya:

Bunda Nabi Ismail as

Siapa yang tidak mengenal Siti Hajar? Setiap tahun berjuta-juta kaum muslimin dari berbagai penjuru dunia yang naik haji menyaksikan buah karyanya, sekaligus merasakan perjalanan pahit yang pernah dirasakan wanita ini. Siapa gerangan wanita mulia ini? Dia adalah seorang wanita berkulit hitam legam dari Ethiopia, dan seorang hamba sahaya. Ia tidak berdaya dan tidak berkuasa. Bahkan, dirinya sendiri pun ia tidak menguasainya.

Ia dibawa oleh Sarah, Istri Nabi Ibrahim as dari Mesir ke tanah Kan'an ( Palestina) untuk membantu di rumahnya.

Sebagaimana diketahui, Sarah hingga berusia lanjut tetap mandul hingga hampir putus asa untuk dapat melahirkan anak yang diidam-idamkan suaminya. Oleh sebab itu dengan suka rela ia menyerahkan hamba sahaya yang dibawanya dari Mesir itu kepada suaminya untuk dijadikan istri kedua.

Sarah berharap dari rahim Hajar akan lahir seorang putera bagi Nabi Ibrahim as. Harapan itu terkabul. Namun sebagai wanita, Sarah merasakan cemburu juga. Ia jadi tidak enak, cemburu dan gundah gulana. Puncak kesabaran Sarah menjadi habis manakala Hajar melahirkan seorang anak laki-laki yang mungil.

Sarah terus menerus mendesak suaminya supaya menjauhkan Hajar dari pandangan matanya. Pada akhirnya Nabi Ibrahim as pergi mengembara ke arah selatan, diikuti Siti Hajar, sambil mengendong bayinya. Nabi Ibrahim hendak menempatkan puteranya di bawah naungan sisa-sisa bangunan purba, tempat pertama di muka bumi, di mana manusia bersembah sujud kepada Allah, Rabbul alamin.

Setelah melalui perjalanan panjang dan melelahkan, tibalah Nabi Ibrahim bersama istri dan puteranya di sebuah dataran tandus dan gersang. Tidak terdapat seorang manusia pun yang tinggal di kawasan itu. Di dekat sisa-sisa bangunan purba, Nabi Ibrahim as diperintahkan oleh Allah meninggalkan Hajar bersama puteranya, Ismail as. Ibu dan anak balita itu hanya dibekali sekantong kurma dan sewadah (qirbah) air minum untuk bertahan hidup.

Setelah membuat sebuah `arisy (semacam tenda) beliau berangkat ke tempat asalnya. Sudah barang tentu Hajar ketakutan, ditinggal seorang diri bersama bayi merahnya di tengah gurun. Ia meminta agar suaminya menghentikan langkah dan tidak meninggalkannya. Akan tetapi Nabi Ibrahim yang dipanggil-panggil tidak menoleh dan tidak menjawab, seolah-olah beliau khawatir kalau-kalau tekadnya menjadi goyah.

Hajar mengulang kembali permohonannya dengan suara memelas, tetapi Ibrahim as terus berjalan, tidak menoleh dan tidak menjawab. Setelah sampai di bagian lembah yang agak tinggi beliau mendengar suara Hajar bertanya: “Apakah Allah memerintahkan kanda meninggalkan diriku bersama bayi ini di tempat yang mengerikan seperti ini?”. Beliau menjawab: “Ya...! sambil terus berjalan tanpa menoleh ke belakang. Setelah mendengar jawaban seperti itu, Hajar terasa memiliki kekuatan untuk menerima kenyataan. Hajar menyerahkan nasib bersama bayinya kepada Allah dengan penuh keyakinan. Sementara dipandangnya terus-menerus langkah kaki Ibrahim as hingga hilang setelah melewati belokan di belakang pasir. Setibanya dibelokan itu Nabi Ibrahim dengan khusyu berdoa, “Ya, Allah Tuhan kami, kutempatkan sebagian dari keturunanku pada sebuah lembah yang tidak terdapat tetumbuhan, dekat rumah suci-Mu. Ya Tuhan kami, agar mereka menegakkan shalat dan semoga Engkau membuat hati sebagian manusia condong kepada mereka, serta karuniailah mereka berbagai buah-buahan. Mudah-mudahan mereka bersyukur.” (QS.Ibrahim:37)

Puncak kegundahan Hajar adalah manakala perbekalannya sudah habis, sementara air teteknya tidak lagi mengeluarkan air susu. Bayi Ismail kini mulai berteriak-teriak kehausan. Tangisnya semakin melengking, kemudian menurun dan terus menurun. Wajah Ismail semakin pucat pasi. Setelah berlari bolak-balik antara bukit shafa dan Marwah, dan tidak mendapatkan apa-apa, Hajar mencobanya lagi memasukkan teteknya ke dalam mulut anaknya secara berulangkali. Akan tetapi setiap kali putingnya dimasukkan ke dalam mulut, bayi itu tambah kuat jeritannya.

Merasa tidak ada harapan menolong bayinya yang malang itu, Hajar menjauhkan diri dari anaknya yang dianggap tak akan dapat bertahan hidup lebih lama lagi. Ia menjauh karena tidak ingin menyaksikan bayinya mati di depan matanya. Sambil menutup muka dengan tangannya dan meratap, “Tidak..aku tidak mau melihat kematian darah dagingku!”

Pada saat yang kritis itulah Allah menurunkan pertolongan-Nya. Secara tiba-tiba Hajar melihat seekor burung elang yang melayang-layang di udara, kemudian turun dan hinggap di sebuah tempat yang tidak seberapa jauh dari dirinya. Masya Allah! Pemandangan menakjubkan terjadi di depan matanya. Tanah kerontang lagi tandus itu memancarkan air di antara hentakan kaki bayi Ismail.

Ujian Hajar tidak sampai di situ. Memasuki usia remaja anaknya, Ismail, datanglah Ibrahim as yang memberitahukan mimpinya, “ ...Anakku, aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelih mu. Pikirkanlah, bagaimana pendapatmu? Ia (Ismail as) menjawab: ` Ayah, lakukanlah apa yang diperintahkan Allah kepadamu, insya Allah ayah akan mendapatiku sebagai seorang yang tabah dan sabar.”

Bunda Nabi Musa as

Al-Qur'an sama sekali tidak menyebut sesuatu mengenai ayah Nabi Musa as. Yang disebut secara khusus hanya bundanya saja. Kepada bundanya itulah, Allah swt memberi kepercayaan kepada untuk membesarkan calon utusan-Nya. Kepercayaan besar itu diberikan kepada ibu Musa ketika Fir'aun tak dapat lagi menahan amarahnya melihat tingkah laku dan kejahatan orang-orang Yahudi (Bani Israil).

Dalam riwayat yang lain disebutkan tentang mimpi Fir'aun yang sangat menakutkan. Para ahli nujum dan juru ramal yang ditanya mengenai arti mimpi itu menjawab, bahwa di kalangan orang-orang Yahudi akan lahir seorang anak lelaki. Apabila besar ia akan merampas kerajaan dan mengalahkan kekuasaan Fir'aun. Ia akan mengusir penduduk asli Mesir dan mengganti agama mereka.

Fir'aun sangat percaya dengan pentakwilan mimpinya yang demikian itu. Maka sejak itu Fir'aun memerintahkan kepada segenap aparatur pemerintah, tentara dan seluruh prajuritnya, untuk membunuh setiap bayi laki-laki yang lahir dari keluarga Yahudi.

Pada kondisi yang sangat mencekam itulah ibu Musa melahirkan anak lelaki secara sembunyi-sembunyi. Ketika itu alat kekuasaan Fir'aun sudah membunuh berpuluh ribu anak lelaki Yahudi. Darah bayi-bayi tak berdosa sudah menggenangi Mesir, yang dibunuh secara sangat sadis.

Kendati melahirkan dengan sembunyi, namun mata-mata Fir'aun yang disebar di segenap penjuru menciumnya juga. Rumah ibu Musa digrebeg dan bayi yang baru beberapa hari lahir itu nyaris diketahui oleh mata-mata Fir'aun. Untung saja beberapa saat sebelum mereka sempat masuk ke dalam rumah, kakak perempuan Musa, Maryam, sempat memberitahu ibunya, bahwa gerombolan mata-mata Fir'aun siap melakukan menggeledahan.

Di antara rasa takut dan bingung ibu Musa cepat-cepat membungkus bayinya dengan secarik kain, lalu memasukkan ke dalam sebuah wadah terbuka kemudian disembunyikan dalam tungku. Untung pada saat tentara-tentara haus darah itu datang, bayi Musa tidak menangis. Di depan para tentara itu ibu Musa berusaha dengan segenap kemampuannya menenangkan diri hingga tampak tidak terjadi apa-apa. Maryam, kakak Musa pun tidak tampak resah dan gelisah. Ia bekerja membenahi perkakas rumah dengan tenang, hingga akhirnya para alat kekuasaan Fir'aun meninggalkan rumah.

Akan tetapi ibu Musa sadar, bahwa bayinya tidak mungkin dapat disembunyikan terus menerus. Ia mencari akal untuk menyelamatkan buah hatinya. Pada saat itu datanglah petunjuk dari Allah yang berfirman, “Taruhlah dia (Musa) dalam peti, kemudian hanyutkanlah dia di bengawan (Sungai Nil). Air bengawan itu pasti akan membawanya ke tepi dan dia akan diambil oleh musuh-Ku dan musuhnya.” (QS. Thaha:39).

Bayi Musa akhirnya terdampar di Istana Fir'aun hingga kemudian, ia berhasil menumbangkan keangkaramurkaan raja yang zhalim itu.

Maryam dinadzarkan oleh ibunya untuk mengabdi pada rumah ibadah (Baitul Maqdis) sedang suami Aminah, Abdullah, dinadzarkan untuk di korbankan oleh ayahnya sebagai tanda rasa syukurnya. Kedua orang tua itu kelak melahirkan orang-orang terbaik bagi peradaban dunia, Isa ibnu Maryam dan Muhammad Saw.

Bunda Nabi Isa as

Untuk mengetahui peristiwa kelahiran Nabi Isa as dapat diperoleh informasinya dari ayat berikut, "(Ingatlah) ketika Malaikat (dahulu) berkata kepada Maryam," Hai Maryam, Allah menggembirakan engkau (dengan kelahiran) seorang putera yang diciptakan) dengan titah ( "Kun", "jadilah") dari-Nya, bernama Al-Masih Isa Putra Maryam. Ia seorang terkemuka di dunia dan di akhirat serta merupakan salah satu di antara hamba-hamba Allah yang didekatkan kepada-Nya." (QS.Ali Imran: 45)

Islam mengenal Al-Masih dengan nama Isa Putra Maryam berdasar firman Allah tersebut. Yang hendaknya menjadi kebanggaan kaum ibu di seluruh dunia, Isa as dinasabkan Allah kepada Ibunya, Maryam bukan kepada ayah sebagai lazimnya seorang wanita yang disucikan dan dipilih Allah dari seluruh wanita di dunia.

Mengenai kelahiran Maryam, al-Qur'an menjelaskan kepada kita sebagai berikut: "(Ingatlah ketika istri Imran berkata, "Ya Tuhanku, kunadzarkan kepada-Mu anak yang dalam kandunganku ini menjadi hamba yang shaleh dan berkhidmat (pada baitul Maqdis). Karena itu terimalah nadzarku ini. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui..."

"Ketika istri Imran melahirkan anaknya iapun berucap: Ya Tuhanku, aku melahirkan seorang anak perempuan! Allah lebih mengetahui anak yang dilahirkannya itu, dan anak lelaki tidak seperti anak perempuan(selanjutnya ia berkata): Ia kuberi nama Maryam dan ia beserta anak keturunannya kuperlindungkan kepada-Mu dari godaan (syetan) yang terkutuk."

"Tuhan menerima nadzarnya dengan baik. Tuhan mendidiknya dengan baik dan menjadikan Zakaria pemelihara (anak perempuan itu, Maryam). Tiap Zakaria masuk ke dalam mihrab (ruang khusus untuk beribadah) hendak bertemu dengan Maryam , ia selalu mendapati makanan di sisi anak perempuan itu. Zakaria bertanya, "Hai Maryam, dari mana engkau memperoleh makanan itu?" Maryam menjawab, "Makanan itu dari Allah! Allah memberi rezki kepada siapa saja yang dikehendaki tanpa penghitung-hitung." (QS. Ali Imran:35-37)

Sebagaimana banyak diriwayatkan, kisah keibuan Maryam benar-benar mengesankan. Beliau sosok wanita yang menghadapi ujian hidup sangat berat. Dia dilahirkan di tengah keluarga yang taat kepada agama dan dari ayah yang ternama di kalangan Bani Israil (Kaum Yahudi).

Ayah Maryam wafat ketika ia masih anak-anak. Ketika diadakan undian untuk menentukan siapa yang akan mengasuh Maryam, pilihan jatuh pada Zakaria, suami bibi Maryam yang juga dikenal sebagai seorang Nabi.

Sejak usia remaja Maryam sangat tekun beribadah kepada Allah di dalam mihrab. Sebagaimana yang dinadarkan ibunya, Maryam rajin mengabdikan diri di rumah peribadatan. Ia tumbuh menjadi wanita shaleh. Ia dijaga oleh Allah dan dipilih untuk mengemban amanat rahasia kekuasaan Ilahi.

Pada suatu hari datanglah informasi yang sangat mengejutkannya. Bahwa atas perkenan Allah Dia akan menitipkan seorang utusan lewat rahim Maryam yang terpelihara dari noda dan dosa. Tentu saja Maryam sangat terkejut dan ketakutan mendengar berita Ilahi yang disampaikan oleh Malaikat Jibril kepadanya. Ia menengadah ke langit seraya berucap dengan penuh tarharu, "Bagaimana aku akan mempunyai anak, sedang selama ini tidak pernah ada seorang manusia pun yang menyentuh diriku, lagi pula aku bukanlah wanita jalang!" Namun Malaikat menjawab, "Demikianlah, Tuhanmu telah berfirman: Hal itu mudah bagi-Ku (anak itu) akan kami jadikan tanda kekuasaan Kami bagi ummat manusia dan (juga) sebagai rahmat dari Kami. Ia itu merupakan soal yang menjadi ketetapan Allah."

Pada akhirnya Maryam berserah diri kepada kehendak Allah yang telah menjadi suratan takdir-Nya. Tidak lama kemudian setelah itu ia merasakan janin yang di dalam kandungannya mulai bergerak-gerak. Pada saat itu ia mulai merasakan hinaan dari kaumnya.

Ia berusaha menghindarkan diri dari berbagai tuduhan yang menyakitkan itu dengan pergi ke suatu tempat. Ketika saat bersalin sudah tiba, ia bersandar pada pohon kurma, kemudian ia melahirkan di sebuah kandang ternak. Pada saat kritis itu ia berucap, "Alangkah baiknya kalau aku mati sebelum ini dan diriku dilupakan orang!"

Akan tetapi keshalehan dan kesucian Maryam yang sudah diakui masyarakat selama ini tidak dapat mencegah makian dan cercaan semua orang yang menyaksikan Maryam telah melahirkan seorang anak lelaki. Semua celan, cemoohan, gangguan, kebencian, cacian dan fitnah tersebut diterima Maryam dengan tabah dan sabar.

Namun sebagai manusia ia memiliki juga keterbatasan. Maka untuk menghindari dari semuanya itu ia pergi ke Mesir. Ia tinggal di sana selama 10 tahun, hidup dengan bekerja memintal kapas dan memunguti butir-butir gandum sisa panen. Pekerjaan itu ia lakukan sambil menggendong putranya, Isa Al-Masih. Kasih sayang Maryam kepada puteranya Isa as tercurah hingga Al-Masih menerima wahyu Ilahi pada usia 30 tahun.

Menyangkut keduanya al-Qur'an menjelaskan, "Kami jadikan dia (Maryam) dan puteranya sebagai tanda (kekuasaan dan kebesaran-Ku bagi alam semesta."

Bunda Muhammad saw

Kurun kurang lebih 650 tahun kemudian, di bumi Hijaz muncul rangkaian wanita mulia selanjutnya, yakni ibunda Muhammad Rasulullah Saw, Siti Aminah binti Wahb. Ia adalah wanita suci yang berasal dari keturunan yang tidak pernah ternoda kehormatannya.

Keterangan mengenahi hal ini dapat disimak dalam hadits Nabi sebagai beriut, "Dan selanjutnya Allah memindahkan aku dari tulang sulbi yang baik ke dalam rahim yang suci, jernih dan terpelihara. Tiap tulang sulbi itu bercabang menjadi dua. Aku berada dalam yang terbaik dari keduanya itu." (hadits syarif)

Menurut Al Hamid Al-Hamidi dalam Baitun Nubuwwah-nya mengatakan, makna umum dari hadits tersebut ialah bahwa dari silsilah pihak ayah, Rasulullah saw berasal dari keturunan yang suci dan bersih dari perbuatan tercela. Demikian pula dilihat dari silsilah ibunya, beliaupun berasal dari keturunan yang tidak pernah ternoda kehormatannya.

Aminah binti Wahb lahir dari silsilah tua pasangan suami istri bernama Wahb dan Barrah. Yang satu berasal dari Bani Abdu Manaf bin Zuhrah bin Kilab dan yang lain berasal dari bani Abdul Manaf bin Quraisy bin Kilab. Jadi, pada Kilab-lah akar silsilah ayah dan ibu Aminah binti Wahb.

Suami Aminah binti Wahb, Abdullah bin Abdul Muthalib, seorang pria dari Quraisy yang berbudi luhur. Ayah Abdullah, Abdul Muthalib adalah pria yang disegani. Bahkan kedudukannya sangat dihormati dan dicintai oleh semua penduduk Makkah, baik yang berasal dari kabilah Quraisy maupun dari kabilah lain.

Beberapa minggu setelah pernikahan Aminah dengan Abdullah, pada suatu malam ia bermimpi ada cahaya yang menerangi dirinya. Sungguh terangnya cahaya itu, hingga seolah-olah Aminah dapat melihat istana-istana di Bushara dan di negeri Syam. Tidak berapa lama sesudah itu, ia mendengar suara yang berkata. "Engkau telah hamil dan akan melahirkan seorang termulia di kalangan ummat ini."

Dengan gembira Aminah menceritakan mimpinya itu kepada suaminya. Betapa gembiranya Abdullah mendengar kabar tersebut. Akan tetapi rasa gembira itu hanya berlangsung sejenak, yang disusul dengan kesedihan, karena ia harus bergabung dengan kafilah dagang Quraisy. Tidak diketahui entah untuk berapa lama perpisahan itu harus terjadi.

Bahkan ketika sebulan sudah berlalu Abdullah belum juga pulang. Hari berganti hari dan minggu berganti bulan, Aminah tetap tinggal di rumah, bahkan lebih sering di tempat tidur. Satu-satunya yang menghibur adalah keluarga Abdul Muthalib yang bertutur kata manis dan meriangkan.

Sebagaimana lazimnya wanita yag mengandung, Aminah juga mengidam. Namun keidaman yang dirasakannya itu tidak seberat yang dirasakan wanita lain. Dengan kehamilannya itu Aminah makin merindukan suaminya yang sedang bepergian jauh.

Pada suatu pagi, rombongan kafilah berjalan memasuki kota Makkah. Betapa senangnya Aminah karena beberapa saat lagi ia akan bertemu kembali dengan suami terkasihnya. Tapi hingga rombongan terakhir ia tidak mendapati Abdullah. Setengah berputus ada, ia masuk ke dalam kamar dan berbaring. Baru beberapa saat ia merebahkan diri, tiba-tiba ia mendengar suara pintu diketuk orang. Adakah yang datang suaminya? Ia pun segera bangun membuka pintu, ternyata yang datang bukan Abdullah, melainkan mertuanya, Abdul Muthalib bin Hasyim, ditemani ayahnya sendiri, Wahb, dan beberapa orang dari bani Hasyim. Dengan penuh perhatian Aminah mendengarkan kata-kata ayahnya. "Aminah, tabahkan hatimu menghadapi soal-soal yang mencemaskan. Kafilah yang kita nantikan kedatangannya telah tiba kembali di Makkah. Ketika kami tanyakan kepada mereka tentang keberadaan suamimu, mereka memberitahu, bahwa suamimu mendadak sakit dalam perjalanan pulang. Setelah sembuh ia akan segera kembali dengan selamat..." hiburnya.

Dua bulan Aminah menunggu, diutuslah Al-Harits oleh Abdul Muthalib untuk menyusul Abdullah ke Yatsrib (Madinah) yang sedang sakit. Akan tetapi kedatangan Al-Harits dari Yatsrib (Madinah) disambut duka cita yang mendalam setelah mengabarkan, bahwa Abdullah telah wafat, di tengah kaum kerabatnya, Bani Makhzum.

Betapa hancur hati Aminah mendengar berita yang sangat menyedihkan itu. Dua bulan ia menunggu kedatangan suaminya yang meninggalkan rumah dalam keadaan pengantin baru, tetapi yang datang bukan Abdullah, melainkan berita wafatnya.

Akan tetapi akhirnya Aminah menyadari setelah ia memahami hikmah kejadian yang memilukan itu. Pada waktu masih jejaka, Abdullah nyaris dikorbankan nyawanya untuk memenuhi nadzar ayahnya, Abdul Muthalib. Ia selamat berkat perubahan sikap ayahnya yang bersedia menebus nadzarnya dengan menyembelih seratus ekor unta. Tampaknya Allah memberi kesempatan hidup sementara kepada Abdullah hingga ia meninggalkan janin dalam kandungan istrinya.

Beberapa minggu menjelang kelahiran Muhammad, kota Makkah akan diserbu oleh Abrahah, penguasa dari Yaman yang akan menghancurkan Ka'bah. Akan tetapi sebagaimana diketahui, sebelum niatnya terwujud, Abrahah beserta beserta seluruh bala tentaranya dihancurkan oleh Allah swt.

Aminah melahirkan puteranya menjelang fajar hari Senin bulan Rabi'ul Awwal tahun Gajah. Saat itu ia berada seorang diri di dalam rumah, hanya ditemani seorang pembantunya, Barakah Ummu Aiman. Karena kondisi kesehatnnya yang memburuk, Aminah tidak dapat mengeluarkan air susu. Penyusuan bayi yang oleh kakeknya diberi nama Muhammad diserahkan kepada Tsuaibah Al-Aslamiyah. Selanjutnya penyusuan berpindah kepada Halimah as- Sa'diyah, seorang wanita yang berasal dari Bani Sa'ad bin Bakr.

Setelah mencapai usia lima tahun Muhammad dikembalikan kepada ibunya, Aminah. Pada kesempatan itu Aminah bermaksud mengajak buah hatinya berziarah ke makam ayahnya, Abdullah. Akan tetapi sungguh malang, dalam perjalanan pulang dari Madinah ke Makkah, bunda Muhammad saw, ini wafat di sebuah pedusunan bernama Abwa, terletak di antara Madinah dan Makkah. Selamat jalan ibu dari manusia termulia Muhammad saw.

Parit-parit Berapi (Uhdud)


Shuaib r.a berkata, "Bersabda s.a.w. : Zaman dahulu ada seorang raja yang mempunyai ahli sihir, maka ketika telah tua, dia berkata kepada raja : Kini aku telah tua, kerana itu hantarkanlah kepadaku seorang pemuda yang dapat mempelajari ilmu sihir, supaya dapat menggantikan tempatku di sisi raja, setelah saya meninggalkan dunia nanti.

Maka raja memilih seorang pemuda untuk belajar ilmu sihir lalu dihantarkan kepada ahli sihir itu. Kebetulan pula di jalan yang dilalui pemuda itu, ada seorang Rahib (pendeta), lalu dia tertarik kepada Rahib itu, maka dia duduk mendengar ajaran-ajarannya dan merasa puas pada ajaran rahib itu hingga terlambat datang ke tempat ahli sihir itu dan dipukul oleh ahli sihir. Akhirnya dia mengeluh pada Rahib.

Berkata Rahib, "Jika engkau takut dipukul Sahir, katakan : Bahawa kau masih ditanam (disuruh) ibumu, dan jika kembali terlambat katakan : Ditahan oleh Ahli Sihir.

Maka berjalanlah dia dengan baik keadaanya, sehingga terjadi pada suatu hari, ketika dia pergi tiba-tiba di tengah jalan ada binatang besar yang menyebabkan orang ramai terhenti, tidak berani berjalan. Di situlah pemuda itu berkata," Hari ini aku akan mengetahui sihirkah yang lebih baik ajarannya atau Rahib? Lalu dia mengambil batu sambil berkata,"Ya allah ! Jika ajaran Rahib lebih Kau redhai daripada ajaran Sihir, maka bunuhlah binatang buas ini, supaya orang ramai dapat berjalan."

Kemudian dilemparkan binatang itu, serta-merta binatang itu mati sehingga orang ramai dapat berjalan dengan aman. Maka dia memberitahu kejadian itu kepada rahib. Berkata Rahib,"Anakku, engkau kini lebih utama daripadaku dan kau nanti akan mendapat ujian maka apabila engkau mendapat ujian, janganlah engkau tunjuk saya." Kemudian pemuda itu telah mendapat kurnia daripada Allah hingga dia dapat menyembuhkan pelbagai jenis penyakit yang tidak dapat sembuh seperti buta, pekak dan lain-lain penyakit.

Maka ada seorang pembesar raja sakit mata hingga buta dan telah berikrar menyembuhkan penyakitnya tetapi tidak juga sembuh. Kemudian datanglah dia kepada pemuda itu dengan membawa hadiah-hadiah yang sangat banyak sambil berkata,"Jika kau dapat menyembuhkan penyakitku, maka saya akan memberikan segala apa yang kau hajatkan. Jawab pemuda itu,"Saya tidak dapat menyembuhkan tetapi Allah yang mnyembuhkan. Jika kau percaya kepada Allah, maka saya akan berdoa dan Allah akan menyembuhkan kau. maka segeralah pembesr itu percayalah kepada Allah." Kemudian didoakan oleh pemuda itu dan ketika itu juga pembesar itu dapat melihat semula.

Kemudian penbesar tersebut pergi ke majlis raja, maka kagumlah Raja melihat dia telah sembuh, Raja bertanya,"Siapakah yang menyembuhkan matamu itu?" Jawabnya, "Tuhanku. Raja bertanya kembali,"Apakah kau percaya pada Tuhan selain aku?" Jawabnya,"Tuhanku dan Tuhanmu iaitu Allah." Maka segera dia diseksa oleh Raja supaya kembali kepada agama raja itu, tetapi imannya tidak berubah sedikit pun dan Raja terus menyeksanya sehingga akhirnya menunjuk kepada pemuda itu. Lalu dipanggil pemuda itu dan ditanya oleh Raja,"Hai anakku, sihirmu telah melampaui batas sehingga dapat menyembuhkan orang buta dan lain-lain penyakit?" Jawab pemuda itu,"Sesungguhnya saya tidak dapat menyembuhkan sesiapa pun. Hanya Allah yang menyembuhkan." Maka segera diseksa oleh raja hingga terpaksa dia menunjuk kepada Rahib.

Kemudian dipanggil Rahib dan diperintahkan supaya meninggalkan agamanya. Tetapi Rahib tetap menolak perintah Raja lalu diambilkan gergaji dan diletakkan di atas kepalanya dan digergaji sehingga terbelah dua badannya. Kemudian tibalah giliran yang kedua iaitu pembesar raja itu. Maka diperintahkan juga untuk meniggalkan agama tuhan, dia pun menolak perintah Raja yang akhirnya dia juga menerima hukuman yang sama sperti rahib. Kemudian didatangkan pemuda itu dan diperintahkan untuk meninggalkan agama tuhan. Dia juga menolak perintah raja. Maka Raja memerintahkan kepada tenteranya membawa pemuda itu ke atas bukit dan di sana ditawarkan kepadanya untuk meninggalkan agama Allah dan kalau dia tetap menolak, maka dilemparkan dia dari atas bukit sehingga mati.

Kemudian ketika telah sampai di puncak bukit, pemuda itu berdoa,"Ya Allah, hindarkan aku daripada bahaya mereka ini sekehendakMu." Tiba-tiba ketika itu, bergeraklah bukit sehingga jatuhlah semua tentera Raja itu. kembalilah pemuda itu kepada Raja. Ditanya oleh Raja,"Kemana tentera yang membawa kamu?" Jawabnya,"Allah telah menghindarkan saya dari mereka."

Kemudian Raja memerintahkan beberapa tentera yang lain untuk membawa pemuda itu naik perahu dan apabila telah berada di tengah laut supaya ditawarkan lagi kepadanya untuk meninggalkan agamanya, dan apabila menolak akan dilemparkan pemuda itu ke dalam laut.

Kemudian sesampainya di tengah laut, pemuda itu berdoa,"Ya Allah, hindarkan aku dari bahaya mereka itu sekehendakMu." Maka terbaliklah perahu itu sehingga tenggelamlah semua tentera itu. Maka pergilah pemuda itu kepada Raja. Ditanya oleh Raja,"Kemanakah tentera yang membawa kamu?" Jawabnya,"Allah telah menghindarkan aku daripada mereka." Maka pemuda iu berkata,"Hai Raja kau tidak dapat membunuhku kecuali jika kau menurut perintahku." Bertanya raja,"Apakah perintahmu?"
Jawab pemuda itu,"Kumpulkan semua rakyat dalam suatu lapangan kemudian gantunglah saya pada sebatang tiang dan ambillah anak panahku dari tempatnya serta letakkan pada busarnya kemudian bacalah "Dengan nama Allah Tuhan pemuda ini", lalu lepaskan anak panah itu ke arahku. Apabila kau lakukan begitu, nescaya kau dapat membunuhku."

Segeralah Raja mengumpulkan semua rakyat di suatu lapangan kemudian digantung pemuda itu pada tiang dan diambilnya anak panah serta diletakkan pada busarnya dan membaca "Dengan nama Allah, tuhan pemuda ini", lalu dilepaskan anak panah itu kepada pemuda itu tepat mengenai pelipisnya. Kemudian pemuda itu meletakkan tangannya di atas luka yang kena panah itu sehingga mati. Maka serentak orang ramai yang menghadiri kejadian itu berkata,"Kami percaya kepada Tuhan pemuda itu," sehingga kepercayaan kepada Allah merebak kepada semua lapisan rakyat.

Kemudian disampaikan kepada Raja. Tahukah kau yang kau khawatirkan tadinya kini telah terjadi. Semua rakyatmu telah percaya kepada tuhan pemuda itu. Maka segera Raja memerintahkan parit besar dibuat pada tiap-tiap persimpagan jalan, kemudian dinyalakan api didalamnya dan siapa yang berjalan diperintahkan unutk meninggalkan agamanya serta kembali kepada agama raja, sedang yang menolak dibakar di dalam api. Setelah dilaksanakan hal tersebut, terjadilah di antara ramai orang yang diseksa itu ada seorang wanita yang membawa bayinya ketika ia diperintahkan untuk meninggalkan agamanya. Dia menolak. Kemudian, pada waktu bayinya ditarik utuk dimasukkan ke dalam api, tiba-tiba ibunya menyerah kerana tidak sampai hati melihat bayinya akan dibakar namun dengan tiba-tiba si bayi itu dapat berkata,"Hai ibu sabarlah, sesungguhnya kamu dalam kebenaran.""

Catatan:

Riwayat di atas mengisahkan keteguhan iman Siti Maisarah dan keluarganya. Hidup pada masa kekuasaan Firaun.

Kekuatan Maaf


Seorang lelaki Arab bernama Tsumamah bin Itsal dari Kabilah Al Yamamah pergi ke Madinah dengan tujuan hendak membunuh Nabi Shalallahu alaihi wa sallam. Segala persiapan telah matang, persenjataan sudah disandangnya, dan ia pun sudah masuk ke kota suci tempat Rasulullah tinggal itu. Dengan semangat meluap-luap ia mencari majlis Rasulullah, langsung didatanginya untuk melaksanakan maksud tujuannya. Tatkala Tsumamah datang, Umar bin Khattab ra. yang melihat gelagat buruk pada penampilannya menghadang. Umar bertanya, "Apa tujuan kedatanganmu ke Madinah? Bukankah engkau seorang musyrik?"

Dengan terang-terangan Tsumamah menjawab, "Aku datang ke negri ini hanya untuk membunuh Muhammad!".

Mendengar ucapannya, dengan sigap Umar langsung memberangusnya. Tsumamah tak sanggup melawan Umar yang perkasa, ia tak mampu mengadakan perlawanan. Umar berhasil merampas senjatanya dan mengikat tangannya kemudian dibawa ke masjid. Setelah mengikat Tsumamah di salah satu tiang masjid Umar segera melaporkan kejadian ini pada Rasulullah.

Rasulullah segera keluar menemui orang yang bermaksud membunuhnya itu. Setibanya di tempat pengikatannya, beliau mengamati wajah Tsumamah baik-baik, kemudian berkata pada para sahabatnya, "Apakah ada di antara kalian yang sudah memberinya makan?".

Para shahabat Rasul yang ada disitu tentu saja kaget dengan pertanyaan Nabi. Umar yang sejak tadi menunggu perintah Rasulullah untuk membunuh orang ini seakan tidak percaya dengan apa yang didengarnya dari Rasulullah. Maka Umar memberanikan diri bertanya, "Makanan apa yang anda maksud wahai Rasulullah? Orang ini datang ke sini ingin membunuh bukan ingin masuk Islam!" Namun Rasulullah tidak menghiraukan sanggahan Umar. Beliau berkata, "Tolong ambilkan segelas susu dari rumahku, dan buka tali pengikat orang itu".

Walaupun merasa heran, Umar mematuhi perintah Rasulullah. Setelah memberi minum Tsumamah, Rasulullah dengan sopan berkata kepadanya, "Ucapkanlah Laa ilaha illa-Llah (Tiada ilah selain Allah)." Si musyrik itu menjawab dengan ketus, "Aku tidak akan mengucapkannya!". Rasulullah membujuk lagi, "Katakanlah, Aku bersaksi tiada ilah selain Allah dan Muhammad itu Rasul Allah." Namun Tsumamah tetap berkata dengan nada keras, "Aku tidak akan mengucapkannya!"

Para sahabat Rasul yang turut menyaksikan tentu saja menjadi geram terhadap orang yang tak tahu untung itu. Tetapi Rasulullah malah membebaskan dan menyuruhnya pergi. Tsumamah yang musyrik itu bangkit seolah-olah hendak pulang ke negrinya. Tetapi belum berapa jauh dari masjid, dia kembali kepada Rasulullah dengan wajah ramah berseri. Ia berkata, "Ya Rasulullah, aku bersaksi tiada ilah selain Allah dan Muahammad Rasul Allah."

Rasulullah tersenyum dan bertanya, "Mengapa engkau tidak mengucapkannya ketika aku memerintahkan kepadamu?" Tsumamah menjawab, "Aku tidak mengucapkannya ketika masih belum kau bebaskan karena khawatir ada yang menganggap aku masuk Islam karena takut kepadamu. Namun setelah engkau bebaskan, aku masuk Islam semata-mata karena mengharap keredhaan Allah Robbul Alamin."

Pada suatu kesempatan, Tsumamah bin Itsal berkata, "Ketika aku memasuki kota Madinah, tiada yang lebih kubenci dari Muhammad. Tetapi setelah aku meninggalkan kota itu, tiada seorang pun di muka bumi yang lebih kucintai selain Muhammad Rasulullah."

September 22, 2012

Annabiy Shollu Alaih

Annabiy Shollu 'Alaihi
Sholawatullahi 'Alaihi
Wayam Na'ul Barokah
Kulluman Sholla 'Alaihi

Annabiy Shollu 'Alaihi
Sholawatullahi 'Alaihi
Wayam Na'ul Barokah
Kulluman Sholla 'Alaihi

Annabiy Ya Hadhirin 'Ilamu 'Ilmal Yakin
Annabiy Ya Hadhirin 'Ilamu 'Ilmal Yakin
Annarobbal 'Alamiin Faradhosholawatullahi 'Alaihi

Annabiy Shollu 'Alaihi
Sholawatullahi 'Alaihi
Wayam Na'ul Barokah
Kulluman Sholla 'Alaihi

Annabiy Ya Manhadhor Annabiy Khoirul Basyar
Annabiy Ya Manhadhor Annabiy Khoirul Basyar
Mandana Lahul Qomar Wanazal Salam 'Alaihi

Annabiy Shollu 'Alaihi
Sholawatullahi 'Alaihi
Wayam Na'ul Barokah
Kulluman Sholla 'Alaihi

Annabiy Shollu 'Alaihi
Sholawatullahi 'Alaihi
Wayam Na'ul Barokah
Kulluman Sholla 'Alaihi

Annabiy Dzakal 'Aruus Dzikruhu Yuhyi Nufuus
Annabiy Dzakal 'Aruus Dzikruhu Yuhyi Nufuus
Annashoro Wal Majus Aslamu Baina Yadaihi

Annabiy Shollu 'Alaihi
Sholawatullahi 'Alaihi
Wayam Na'ul Barokah
Kulluman Sholla 'Alaihi

Alhasan Tsumal Husain Linnabi qurrotul 'Aini
Alhasan Tsumal Husain Linnabi qurrotul 'Aini
Nuruhum Kalkaukabain Jadduhum Shollu 'Alaihi

Annabiy Shollu 'Alaihi
Sholawatullahi 'Alaihi
Wayam Na'ul Barokah
Kulluman Sholla 'Alaihi

Annabiy Shollu 'Alaihi
Sholawatullahi 'Alaihi
Wayam Na'ul Barokah
Kulluman Sholla 'Alaihi

September 21, 2012

Motivasi

BAB I
LATAR BELAKANG

Pada masa globalisasi sekarang ini dan masa yang akan datang, kompetisi yang terjadi sudah bersifat global dibuktikan dengan adanya perubahan-perubahan kondisi ekonomi menyebabkan banyak organisasi dari bermacam-macam ukuran melakukan langkah restrukturisasi. Hal ini mendorong terjadinya perubahan paradigma organisasi dari tradisional menjadi modern. Kondisi ini harus benar-benar disadari dan dipersiapkan secara proporsional. Persiapan ini terutama pada kebutuhan faktor sumber daya manusia yang bermutu dengan kualifikasi yang sesuai.

Oleh karena itu, peningkatan kinerja sumber daya manusia (SDM) merupakan hal yang sangat penting di dalam usaha memperbaiki pelayanan kepada masyarakat, sehingga perlu diupayakan secara terus menerus dan berkesinambungan dalam menghadapi tuntutan masyarakat. Untuk menentukan hal ini perlu dicari faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja tersebut.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2005:770) kinerja diartikan sebagai: (1) sesuatu yang dicapai, (2) prestasi yang diperlihatkan, (3) kemampuan kerja. Snell SA (1992:329) menyatakan bahwa “kinerja merupakan kulminasi dari tiga elemen yang saling berkaitan, yakni keterampilan, upaya, bersifat eksternal”. Tingkat keterampilan merupakan bahan baku yang dibawa oleh seseorang menuju tempat kerjanya, seperti pengetahuan, kemampuan, kecakapan interpersonal serta kecakapan-kecakapan teknis. Tingkat upaya dapat digambarkan sebagai motivasi yang diperlihatkan oleh seseorang untuk menyelesaikan pekerjaan. Sedangkan kondisi-kondisi eksternal adalah tingkat sejauh mana kondisi-kondisi eksternal mendukung kinerja seseorang.

Tinggi rendahnya kinerja para pegawai dapat dipengaruhi beberapa faktor antara lain: “kemampuan dan kemauan kerja, fasilitas kerja yang digunakan, disamping itu juga tepat tidaknya cara yang dipilih perusahaan/instansi dalam memberikan motivasi kepada karyawan, dengan cara yang tepat dalam memotivasi karyawan untuk bekerja, semakin terlihat peningkatan produktivitas sesuai yang diharapkan oleh perusahaan”. (Sinungan, 2000:3). Pendapat tersebut mengatakan bahwa motivasi merupakan salah satu faktor penting yang dapat mempengaruhi peningkatan kinerja pengawai.

Motivasi merupakan kondisi dalam diri individu yang dapat mendorong atau menggerakkan individu tersebut untuk melakukan aktivitas – aktivitas tertentu guna mencapai tujuan. Motivasi juga bisa dikatakan sebagai rencana atau keinginan untuk menuju kesuksesan dan menghindari kegagalan hidup. Dengan kata lain motivasi adalah sebuah proses untuk tercapainya suatu tujuan. Seseorang yang mempunyai motivasi berarti ia telah mempunyai kekuatan untuk memperoleh kesuksesan dalam kehidupan..

Motivasi dapat berupa motivasi intrinsik dan ekstrinsik. Motivasi yang bersifat intrinsik adalah manakala sifat pekerjaan itu sendiri yang membuat seorang termotivasi, orang tersebut mendapat kepuasan dengan melakukan pekerjaan tersebut bukan karena rangsangan lain seperti status ataupun uang atau bisa juga dikatakan seorang melakukan hobinya. Sedangkan motivasi ekstrinsik adalah manakala elemen elemen di luar pekerjaan yang melekat di pekerjaan tersebut menjadi faktor utama yang membuat seorang termotivasi seperti status ataupun kompensasi.



BAB II
TINJAUAN TEORITIS

2.1 Pengertian Motivasi

Pengertian motivasi telah banyak dikemukakan oleh beberapa penulis sesuai dengan tinjauan atau sudut pandang serta tujuan masing-masing. Menurut Mangkunegara (2005:P.61) “motivasi merupakan kondisi atau energi yang menggerakkan diri karyawan yang terarah atau tertuju untuk mencapai tujuan organisasi perusahaan”. Gibson (1995:P.185) motivasi merupakan kekuatan yang mendorong seseorang karyawan yang menimbulkan dan mengarahkan perilaku.

Sarwoto (1991:P.136) mengemukakan pengertian motivasi sebagai proses pemberian motif (penggerak) kerja kepada karyawan sedemikian rupa sehingga mereka bekerja dengan ikhlas demi tercapainya tujuan organisasi. Sedang menurut pendapat Hamalik (1993;P.72) “motivasi adalah suatu perubahan energi dalam diri (pribadi) seseorang yang ditandai dengan timbulnya perasaan dan reaksi untuk mencapai tujuan”. Dengan kata lain motivasi adalah sesuatu yang menggerakkan orang.

Berdasarkan pengertian dari pendapat para ahli di atas maka disimpulkan bahwa motivasi sebagai energi untuk membangkitkan dorongan dari dalam diri pegawai yang berpengaruh, membangkitkan, mengarahkan dan memelihara perilaku berdasarkan lingkungan kerja. Jadi motivasi adalah dorongan dari diri pegawai untuk memenuhi kebutuhan yang berorientasi kepada tujuan individu dalam mencapai rasa puas, kemudian diimplimentasikan kepada orang lain untuk memberikan pelayanan yang baik pada masyarakat.

2.2 Beberapa Teori Motivasi

2.2.1 Teori Motivasi Abraham Maslow (1943-1970)


Abraham Maslow menyatakan bahwa manusia dimotivasi untuk memuaskan sejumlah kebutuhan yang melekat pada diri setiap manusia yang cenderung bersifat bawaan. Kebutuhan ini terdiri dari lima jenis dan terbentuk dalam suatu hirarkhi dalam pemenuhannya (hierarchy of needs). Kelima jenis kebutuhan tersebut dapat digambarkan sebagai berikut.

Sumber: Hariandja, 2002:327

Kelima jenis kebutuhan yang melekat pada diri setiap manusia yang cenderung bersifat bawaan adalah sebagai berikut.

1. Kebutuhan fisik (physiological needs) yaitu kebutuhan ini berkaitan dengan kebutuhan yang harus dipenuhi untuk dapat mempertahankan diri sebagai makhluk fisik seperti kebutuhan untuk makanan, pakaian, dan kebutuhan rawagi lainnya;

2. Kebutuhan rasa aman (safety needs) yaitu kebutuhan ini berkaitan dengan kebutuhan rasa aman dari ancaman-ancaman dari luar yang mungkin terjadi seperti keamanan dari ancaman orang lain, ancaman bahwa suatu saat tidak dapat bekerja karena faktor usia, pemutusan hubungan kerja (PHK) atau faktor lainnya;

3. Kebutuhan sosial (social needs) yaitu kebutuhan ini ditandai dengan keinginan seseorang menjadi bagian atau anggota dari kelompok tertentu, keinginan untuk menjalin hubungan dengan orang lain, dan keinginan membantu orang lain;

4. Kebutuhan pengakuan (esteem needs) yaitu kebutuhan yang berkaitan tidak hanya menjadi bagian dari orang lain (masyarakat), tetapi lebih jauh dari itu, yaitu diakui/dihormati/dihargai orang lain karena kemampuannya atau kekuatannya. Kebutuhan ini ditandai dengan penciptaan simbol-simbol, yang dengan simbol itu kehidupannya dirasa lebih berharga. Dengan simbol-simbol seperti merek sepatu, merek jam dan lainnya merasa bahwa statusnya meningkat dan dirinya sendiri disegani dan dihormati orang; dan

5. Kebutuhan aktualisasi diri (self-actualization needs) yaitu kebutuhan yang berhubungan dengan aktualisasi/penyaluran diri dalam arti kemampuan/minat/potensi diri dalam bentuk nyata dalam kehidupannya merupakan kebutuhan tingkat tertinggi dari teori Maslow, seperti ikut seminar, loka karya yang sebenarnya keikutsertaannya itu bukan didorong oleh ingin dapat pekerjaan, tetapi sesuatu yang berasal dari dorongan ingin memperlihatkan bahwa ia ingin mengembangkan kapasitas prestasinya yang optimal.

Pada prinsipnya teori tingkat kebutuhan menurut Maslow, mengasumsikan bahwa seseorang akan berusaha memenuhi kebutuhan pokok atau tingkat rendah terlebih dahulu (fisiologis) sebelum berusaha memenuhi tingkat yang lebih tinggi, begitu seterusnya sampai mencapai tingkat kebutuhannya yang tertinggi yaitu aktualisasi diri (self actualization).


2.2.2 Teori Motivasi Herzberg (1966)
Teori yang dipelopori oleh Frederick Herzberg ini merupakan teori yang berhubungan langsung dengan kepuasan kerja. Menurut teori ini ada dua faktor yang mempengaruhi kondisi pekerjaan seseorang. Kondisi pertama adalah faktor motivator (motivator factors) atau faktor pemuas. Menurut Herzberg faktor motivator merupakan faktor pendorong seseorang untuk berprestasi yang bersumber dari dalam diri orang yang bersangkutan (intrinsik) yang mencakup (1) kepuasan kerja itu sendiri (the work it self), (2) prestasi yang diraih (achievement), (3) peluang untuk maju (advancement), (4) pengakuan orang lain (recognition), (5) kemungkinan pengembangan karir (possibility of growth), dan (6) tanggung jawab (responsible).

Faktor kedua adalah faktor pemelihara (maintenance factor) atau hygiene factor merupakan faktor yang berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan untuk memelihara keberadaan karyawan. Faktor ini merupakan kebutuhan yang paling mendasar bagi kehidupan para pegawai, karena faktor maintenance ini sebagai faktor yang besar tingkat ketidakpuasannya yang bila tidak dipenuhi sebagaimana mestinya. Faktor ini dikualifikasikan ke dalam faktor ekstrinsik yang meliputi antara lain, (1) konpensasi, (2) kondisi kerja, (3) rasa aman dan selamat, (4) supervisi, (5) hubungan antar manusia, (6) status, dan (7) kebijaksanaan perusahaan.

Berdasarkan uraian yang telah disebutkan di atas, kiranya tampak dengan jelas bahwa upaya meningkatkan motivasi kerja dapat dilakukan dengan memasukkan unsur-unsur yang memotivasi ke dalam suatu pekerjaan seperti membuat pekerjaan menantang, memberi tanggung jawab yang besar pada pekerja.

2.2.3 Teori Motivasi Douglas McGregor

Mengemukakan dua pandangan manusia yaitu teori X (negatif) dan teori y (positif), Menurut teori x empat pengandaian yang dipegang manajer, yakni :
1. karyawan secara inheren tertanam dalam dirinya tidak menyukai kerja.
2. karyawan tidak menyukai kerja mereka harus diawasi atau diancam dengan hukuman untuk mencapai tujuan.
3. Karyawan akan menghindari tanggung jawab.
4. Kebanyakan karyawan menaruh keamanan di atas semua faktor yang dikaitkan dengan kerja.

Kontras dengan pandangan negatif ini mengenai kodrat manusia ada empat teori Y :
1. karyawan dapat memandang kerjasama dengan sewajarnya seperti istirahat dan bermain.
2. Orang akan menjalankan pengarahan diri dan pengawasan diri jika mereka komit pada sasaran.
3. Rata rata orang akan menerima tanggung jawab.
4. Kemampuan untuk mengambil keputusan inovatif.

2.2.4 Teori Motivasi Vroom (1964)

Teori dari Vroom (1964) tentang cognitive theory of motivation menjelaskan mengapa seseorang tidak akan melakukan sesuatu yang ia yakini ia tidak dapat melakukannya, sekalipun hasil dari pekerjaan itu sangat dapat ia inginkan. Menurut Vroom, tinggi rendahnya motivasi seseorang ditentukan oleh tiga komponen, yaitu:
1. Ekspektasi (harapan) keberhasilan pada suatu tugas
2. Instrumentalis, yaitu penilaian tentang apa yang akan terjadi jika berhasil dalam melakukan suatu tugas (keberhasilan tugas untuk mendapatkan outcome tertentu).
3. Valensi, yaitu respon terhadap outcome seperti perasaan positif, netral, atau negatif. Motivasi tinggi jika usaha menghasilkan sesuatu yang melebihi harapan. Motivasi rendah jika usahanya menghasilkan kurang dari yang diharapkan.

2.2.5 Achievement Theory Mc Clelland (1961)

Menurut McClelland (Hariandja, 2002: 329), yang mengatakan bahwa ada tiga kebutuhan manusia, yaitu:
1. Kebutuhan berprestasi (needs for achievement), yaitu kebutuhan untuk berprestasi yang merupakan refleksi dari dorongan akan tanggung jawab untuk pemecahan masalah. Seorang pegawai yang mempunyai kebutuhan akan berpartisipasi tinggi cenderung untuk berani mengambil resiko. Kebutuhan untuk berprestasi adalah kebutuhan untuk melakukan pekerjaan lebih baik daripada sebelumnya, selalu berkeinginan mencapai prestasi yang lebih tinggi.
2. Kebutuhan untuk berkuasa (needs for power), yaitu kebutuhan untuk kekuasaan yang merupakan refleksi dari dorongan untuk mencapai otoritas dan untuk memiliki pengaruh orang lain.
3. Kebutuhan afiliasi (needs for afiliation), yaitu kebutuhan untuk berhubungan sosial, yang merupakan dorongan untuk berintekrasi dengan orang lain atau berada bersama orang lain, tidak mau melakukan sesuatu yang merugikan orang lain.

Ketiga jenis kebutuhan tersebut bisa dimiliki setiap orang, yang berbeda hanyalah intensitasnya. Seseorang dapat memiliki kebutuhan prestasi yang dominan dibandingkan dengan yang lain, sementara pada orang lain yang dominan mungkin kebutuhan berkuasa. Kebutuhan mana yang dominan pada seseorang dapat dipengaruhi oleh sistem nilai yang berkembang dalam masyarakatnya. Misalnya, suatu masyarakat yang sangat menjunjung tinggi nilai prestasi dapat mempengaruhi anggota masyarakatnya untuk memiliki kebutuhan yang dominan dalam kebutuhan berprestasi. Misalnya, Indonesia yang sangat menjunjung tinggi nilai kekeluargaan dapat mempengaruhi kebutuhan afiliasi yang lebih tinggi dibandingkan dengan kebutuhan berprestasi.

2.2.6 Teori Erg Dari Clayton Alderfer

Teori ini dikemukakan oleh Clayton Alderfer yang dikenal dengan teori ERG, yaitu existence, relatedness, dan growth. Secara konseptual teori ERG mempunyai persamaan dengan teori yang dikembangkan oleh Maslow. Existence (eksistensi) identik dengan kebutuhan untuk mempertahankan keberadaan seseorang dalam hidupnya. Dikaitkan dengan penggolongan dari Maslow, berkaitan dengan kebutuhan fisik (fisiologis) dan keamanan. Sedangkan relatedness (hubungan) berhubungan dengan kebutuhan untuk berinteraksi dengan orang lain. Dikaitkan dengan penggolongan kebutuhan dari Maslow, meliputi kebutuhan sosial dan pengakuan. Growth (pertumbuhan) berhubungan dengan kebutuhan pengembangan diri, yang identik dengan kebutuhan self-actualization yang dikemukakan oleh Maslow.

Teori ERG bahwa jenjang-jenjang bukan merupakan tingkat, tetapi hanya sekedar pembeda, sehingga setiap orang dapat saja bergelut dalam kebutuhan yang lebih besar dari satu kebutuhan pada saat yang sama tanpa menunggu salah satunya terpenuhi terlebih dahulu seperti Maslow.


DAFTAR PUSTAKA


Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 2005. Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi 3. Balai Pustaka Jakarta.
Gibson, James L., Ivancevich, Donnelly, Jr, 1995. Organisasi: Perilaku, Struktur, Proses. Edisi I. Bina Rupa Aksara, Jakarta.Mangkunegara, A. Prabu. 2005. Evaluasi Kinerja SDM, Refika Aditama, Bandung.
Hamalik, Oemar. 1993. Psychologi Manajemen. Tri Gendakarya, Bandung.Sarwoto, 1992. Dasar-dasar dan Manajemen. Chalia Indonesia, Jakarta.
Hariandja, Marihot, T.E. 2002. Manajemen Sumber Daya Manusia, Grasindo. Jakarta.
Snell, SA., 1992. Diagnosis Kinerja: Mengenali Penyebab Kinerja Buruh. Dalam A. Dale Tample (ED). Seri Ilmu dan Manajemen Bisnis Kinerja. Alih bahasa Cikmat, Elex MK., Jakarta.